MEMBUKA RAHASIA ILMU KASAMPURNAAN

Posted on

alangalangkumitir

Ketika selesai membangun pesantren, Raden Paku teringat salah satu bungkusan yg harus dibukanya. Ia ingat kata2 ayahnya kalau bingkisan itu berisi rahasia ilmu sejati yg harus dibacanya. Dengan hati2 dibukanya bungkusan tsb. Didalamnya ada beberapa lembar daun lontar bertuliskan huruf arab pegon. Segera dibacanya tulisan tsb.

A. Tentang Macam Ilmu Manusia.

Adalah suatu yg pasti terjadi anakku, ketahuilah ini, renungkan demi kasampurnaan ilmumu. Di dunia ini, entah kapan, sakit, dan mati pasti terjadi. Maka hendaklah waspada, tidak urung kita juga akan mati, jangan lupa pada sangkan paran dumadi. Untuk itu, di dunia ini hendaklah selalu prihatin. Agar benar2 sempurna engkau berilmu.

Dalam memperbincangkan ilmu kasempurnaan ini, jangan lupa arti bahasanya jika engkau mempertanyakannya. Karena mengetahui arti bahasa adalah kuncinya. Kesungguhanlah yg pasti, itulah yg perlu benar2 engkau mengerti. Jangan takut pd biaya. Bukan emas, bukan dirham, dan bukan pula harta benda. Namun hanya niat ikhlas saja yg diperlukan.

Adapun ilmu…

Lihat pos aslinya 1.845 kata lagi

MACAPAT

Posted on Updated on

Kumpulan Tembang Macapat Lengkap dengan Penjelasan Serta Contohnya

Tembang macapat merupakan salah satu tembang atau lagu daerah yang paling populer di Jawa.

Tembang macapat merupakan tembang atau puisi tradisional Jawa yang menceritakan tahap-tahap kehidupan manusia. Filosofinya menggambarkan tentang seorang manusia dari lahir, mulai belajar di masa kanak-kanak, saat dewasa, hingga akhirnya meninggal dunia.

Tembang macapat sendiri mempunyai sebutan tembang cilik (kecil). Tembang macapat yang berarti lagu ini mempunyai karakteristik yang berbeda dari setiap jenisnya. Ciri-ciri tersebut diantaranya dari Guru Gatra, Guru Lagu, dan Guru Bilangan (wilangan).

Sejarah Tembang Macapat

Macapat diperkirakan muncul pada akhir masa Majapahit dan dimulainya pengaruh dari Walisanga. Bisa dikatakan ini untuk situasi di Jawa tengah, sebab di Jawa timur dan Bali macapat sudah dikenal sebelumnya, bahkan sebelum datangnya islam.

Sebagai contohnya yaitu sebuah teks dari Bali atau Jawa timur yang dikenal dengan judul Kidung Ranggalawe disebutkan telah selesai ditulis pada tahun 1334 Masehi. Di sisi lain tarikh ini disangsikan karena karya tersebut hanya dikenal versinya yang lebih mutakhir dan sari semua naskahnya yang memuat teks yang berasal dari Bali.

Mengenai usia macapat, terdapat dua pendapat yang berbeda terutama yang ada hubungannya dengan Kakawin atau puisi tradisional Jawa Kuna, mana yang lebih tua.  Prijohoetomo berpendapat bahwa macapat adalah turunan Kakawin dengan tembang Gedhe (besar) sebagai perantara.

Pendapat tersebut disangkal oleh Poerbatjaraka dan Zoetmulder. Menurut keduanya macapat ini sebagai metrum puisi asli Jawa yang lebih tua usianya daripada Kakawin. Karena itu macapat baru muncul setelah pengaruh India semakin memudar.

Pengertian Guru Gatra, Guru Lagu, Dan Guru Bilangan.

•    Guru Gatra merupakan banyaknya jumlah larik (baris) dalam satu bait.

•    Guru Lagu merupakan persamaan bunyi sajak di akhir kata dalam setiap larik (baris).

•    Guru Wilangan merupakan banyaknya jumlah wanda (suku kata) dalam setiap larik (baris).

Untuk mempermudah membedakan guru gatra, guru lagu, dan guru wilangan dari tembang-tembang macapat tadi, maka bisa dibuat tabel seperti berikut :

Guru gatra tembang macapat

Dengan adanya aturan berupa Guru Gatra, Guru Lagu, dan Guru Bilangan maka tembang macapat dibedakan menjadi 11 jenis tembang.

Baca juga Kumpulan Berbagai Geguritan Lengkap Disertai dengan Penjelasannya

***

Jenis Tembang Macapat Beserta Penjelasannya Serta Dilengkapi Dengan Guru Gatra, Guru Lagu, Dan Guru Bilangan

1.    Tembang Pocung (Pucung)

Tembang macapat tembang pocung

Kata pocung (pucung) berasal dari kata ‘pocong’ yang menggambarkan ketika seseorang sudah meninggal yang dikafani atau dipocong sebelum dikuburkan. Filosofi dari tembang pocung menunjukkan tentang sebuah ritual saat melepaskan kepergian seseorang.

Dari segi pandang lain ada yang menafsirkan pucung merupakan biji kepayang (pengium edule). Di dalam  Serat Purwaukara, pucung memiliki arti kudhuping gegodhongan (kuncup dedaunan) yang biasanya tampak segar.

Ucapan cung dalam kata pucung cenderung mengarah pada hal-hal yang lucu sifatnya, yang dapat menimbulkan kesegaran, misalnya kucung dan kacung. Biasanya tembang pucung digunakan untuk menceritakan lelucon dan berbagai nasehat. Pucung menceritakan tentang kebebasan dan tindakan sesuka hati, sehingga pucung berwatak atau biasa digunakan dalam suasana santai.

Contoh Tembang Pocung (12u – 6a – 8i – 12a)

Ngelmu iku kelakone kanthi laku
Lekase lawan kas
Tegese kas nyantosani
Setya budya pengekesing dur angkara

 

Berikut penjelasan mengenai aturan guru gatra, guru lagu dan guru wilangan dari tembang pucung.

1. Guru gatra = 4

Artinya tembang Pocung ini memiliki 4 larik kalimat.

2. Guru wilangan = 12, 6, 8, 12

Maksudnya setiap kalimat harus mempunyai suku kata seperti di atas. Kalimat pertama berjumlah 12 suku kata. Kalimat kedua berjumlah 6 suku kata. Kalimat ketiga berjumlah 8 suku kata. Kalimat keempat berjumlah 12 suku kata.

3. Guru lagu = u, a, i, a

Maksudnya adalah akhir suku kata dari setiap kalimatnya harus bervokal u, a, i, a.
Berikut ini adalah contoh tembang pucung.

Ngelmu iku kelakone kanthi laku -> u
Lekase lawan kas -> a
Tegese kas nyantosani -> i
Setya budya pengekesing dur angkara -> a

Baca juga kumpulan Tembang Macapat Pocung

2.   Tembang Maskumambang

Tembang Macapat Maskumambang

Tembang Maskumambang menceritakan sebuah filosofi hidup manusia dari mulainya manusia diciptakan. Sosok manusia yang masih berupa embrio di dalam kandungan, yang masih belum diketahui jati dirinya, serta belum diketahui apakah dia laki-laki atau perempuan.

Dari segi pandangan lain Maskumambang berasal dari kata ‘mas’ dan ‘kumambang’. Asal kata ‘mas’ berasal dari kata Premas yang berarti Punggawa dalam upacara Shaministis.

Kata ‘kumambang’ berasal dari kata kambang dengan sisipan -um. Kambang sendiri asalnya dari kata ambang yang berarti terapung. Kambang juga berarti Kamwang yang berarti kembang.

Ambang berkaitannya dengan Ambangse yang berarti menembang. Dengan demikian Maskumambang dapat diartikan punggawa yang melakukan upacara Shamanistis, mengucap mantra atau lafal dengan menembang disertai sajian bunga.

Di dalam Serat Purwaukara, Maskumambang berarti Ulam Toya yang berati ikan air tawar, sehingga terkadang diisyaratkan dengan lukisan atau ikan berenang.

Watak Maskumambang yaitu meiliki gambaran perasaan sedih atau kedukaan, dan juga suasana hati yang sedang dalam keadaan nelangsa.

Contoh Tembang Maskumambang ( 12i – 6a – 8i – 8o )

Wong tan manut pitutur wong tuwa ugi
Ha nemu duraka
Ing donya tumekeng akhir
Tan wurung kasurang-surang

Tembang Maskumambang di atas menceritakan tentang hidup seseorang yang tidak mematuhi nasehat orang tua, maka dia akan hidup sengsara dan menderita di dunia dan akhirat.

 

Berikut penjelasan mengenai aturan guru gatra, guru lagu dan guru wilangan dari tembang maskumambang.

1. Guru gatra = 4

Artinya tembang maskumambang ini memiliki 4 larik atau baris kalimat.

2. Guru wilangan = 12, 6, 8, 8

Kalimat pertama berjumlah 12 suku kata. Kalimat kedua berjumlah 6 suku kata. Kalimat ketiga berjumlah 8 suku kata. Kalimat keempat berjumlah 8 suku kata.

3. Guru lagu = i, a, i, o

Akhir suku kata dari setiap kalimatnya harus bervokal i, a, i, o.

Baca juga Berbagai Peribahasa Jawa Lengkap dengan Artinya

3.    Tembang Megatruh

Tembang macapat tembang megatruh

Kata Megatruh berasal dari kata ‘megat’ dan ‘roh’, artinya putusnya roh atau telah terlepasnya roh dari tubuh. Filosofi yang terkandung di Megatruh adalah tentang perjalanan kehidupan manusia yang telah selesai di dunia.

Dari segi pandang lain Megatruh berasal dari awalan -am, pegat dan ruh. Dalam serat Purwaukara, Megatruh memiliki arti mbucal kan sarwa ala (membuang apa-apa yang sifatnya jelek).

Kata pegat ada hubungannya dengan peget yang berarti istana, tempat tinggal. Pameget atau pemegat berarti jabatan. Samgat atau samget berarti jabatan ahli atau guru agama. Dapat disimpulkan Megatruh mempunyai arti petugas yang ahli dalam kerohanian yang selalu menghindari perbuatan jahat.

Watak tembang Megatruh yaitu tentang kesedihan dan kedukaan. Biasanya menceritakan mengenai kehilangan harapan dan rasa putus asa.

Contoh Tembang Megatruh (12u – 8i – 8u – 8i – 8o)

Kabeh iku mung manungsa kang pinujul
Marga duwe lahir batin
Jroning urip iku mau
Isi ati klawan budi
Iku pirantine ewong

 

Berikut penjelasan mengenai aturan guru gatra, guru lagu dan guru wilangan dari tembang Megatruh .

1. Guru gatra = 5

Tembang Megatruh ini memiliki 5 larik atau baris kalimat.

2. Guru wilangan = 12, 8, 8, 8, 8

Kalimat pertama berjumlah 12 suku kata. Kalimat kedua berjumlah 8 suku kata. Kalimat ketiga berjumlah 8 suku kata. Kalimat keempat berjumlah 8 suku kata. Kalimat ke lima berjumlah 8 suku kata.

3. Guru lagu = u, i, u, i, o

Akhir suku kata dari setiap kalimatnya harus bervokal u, i, u, i, o.

4.    Tembang Gambuh

Contoh Tembang Macapat Gambuh dan Artinya

Kata Gambuh memiliki arti menyambungkan. Filosofi tembang Gambuh ini menceritakan mengenai perjalanan hidup dari seseorang yang telah bertemu  dengan pasangan hidupnya yang cocok. Keduanya dipertemukan untuk menjalin ikatan yang lebih sakral yaitu dengan pernikahan. Sehingga keduanya akan memiliki kehidupan yang langgeng.

Dari segi pandang lain Gambuh berarti roggeng tahu, terbiasa, dan nama tumbuhan. Berkaitan dengan hal ini, tembang Gambuh memiliki watak atau biasa digunakan dalam suasana yang sudah pasti atau tidak ragu-ragu, maknanya kesiapan pergerakan maju menuju medan yang sebenarnya.

Watak Gambuh juga menggambarkan tentang keramahtamahan dan tentang persahabatan. Tembang Gambuh biasanya juga digunakan untuk menyampaikan cerita-cerita kehidupan.

Contoh Tembang Gambuh (7u – 10u – 12i – 8u – 8o)

Lan sembah sungkem ipun
Mring Hyang Sukma elinga sireku
Apan titah sadaya amung sadermi
Tan welangsira andhaku
Kabeh kagungan Hyang Manon

 

Berikut penjelasan mengenai aturan guru gatra, guru lagu dan guru wilangan dari tembang Gambuh .

1. Guru gatra = 5

Tembang Gambuh memiliki 5 larik atau baris kalimat.

2. Guru wilangan = 7, 10, 12, 8, 8

Kalimat pertama berjumlah 7 suku kata. Kalimat ke dua berjumlah 10 suku kata. Kalimat ke tiga berjumlah 12 suku kata. Kalimat ke empat berjumlah 8 suku kata. Kalimat ke lima berjumlaj 8 suku kata.

3. Guru lagu = u, u, i, u, o

Akhir suku kata dari setiap kalimatnya harus bervokal u, u, i, u, o.

Baca juga kumpulan Tembang Macapat Gambuh

5.    Tembang Mijil

Tembang macapat tembang mijil

Tembang Mijil memiliki filosofi yang melambangkan bentuk sebuah biji atau benih yang lahir di dunia. Mijil menjadi lambang dari awal mula dari perjalanan seorang anak manusia di dunia fana ini, dia begitu suci dan lemah  sehingga masih membutuhkan perlindungan.

Dari segi pandang lain Mijil berarti keluar. Selain itu berhubungan juga dengan wijil yang mempunyai arti sama dengan lawang atau pintu. Lawang juga berarti nama sejenis tumbuh-tumbuhan yang wangi bunganya.

Watak tembang Mijil yaitu menggambarkan keterbukaan yang pas untuk mengeluarkan nasehat, cerita-cerita dan juga asmara.

Contoh Tembang Mijil (10i – 6o – 10e – 10i – 6i – 6o)

Dedalanne guna lawan sekti
Kudu andhap asor
Wani ngalah dhuwur wekasane
Tumungkula yen dipundukanni
Ruruh sarwa wasis
Samubarangipun

Tembang Mijil di atas menceritakan  mengenai bagaimana menjadi sosok orang yang baik, rendah hati, dan juga ramah.

 

Berikut penjelasan mengenai aturan guru gatra, guru lagu dan guru wilangan dari tembang Mijil .

1. Guru gatra = 6

Tembang Mijil memiliki 6 larik atau baris kalimat.

2. Guru wilangan = 10, 6, 10, 10, 6, 6

Kalimat pertama berjumlah 10 suku kata. Kalimat ke dua berjumlah 6 suku kata. Kalimat ke tiga berjumlah 10 suku kata. Kalimat ke empat berjumlah 10 suku kata. Kalimat ke lima berjumlaj 6 suku kata. Kalimat ke enam 6 suku kata.

3. Guru lagu = i, o, e, i, i, o

Akhir suku kata dari setiap kalimatnya harus bervokal i, o, e, i, i, o.

Baca juga Kumpulan Cerkak Bahasa Jawa Berbagai Tema

6.    Tembang Kinanthi

Tembang macapat tembang kinanthi

Kinanthi berasal dari kata ‘kanthi’ yang berarti menggandeng atau menuntun. Tembang Kinanthi memiliki filosofi hidup yang mengisahkan kehidupan seorang anak yang masih membutuhkan tuntunan agar bisa berjalan dengan baik di dunia ini.

Seorang anak tidak hanya membutuhkan tuntutan untuk belajar berjalan, tetapi tuntunan secara penuh. Tuntunan itu meliputi tuntunan dalam berbagai norma dan adat yang berlaku agar dapat dipatuhi dan dijalankan pada kehidupan dengan baik.

Watak tembang Kinathi yaitu menggambarkan perasaan senang, teladan yang baik, nasehat serta kasih sayang. Tembang Kinanthi digunakan untuk menyampaikan suatu cerita atau kisah yang berisi nasehat yang baik serta tentang kasih sayang.

Contoh Tembang Kinanthi (8u – 8i – 8a – 8i – 8a – 8i)

Kukusing dupa kumelun
Ngeningken tyas kang apekik
Kawengku sagung jajahan
Nanging saget angikipi
Sang resi kaneka putra
Kang anjog saking wiyati

 

Berikut penjelasan mengenai aturan guru gatra, guru lagu dan guru wilangan dari tembang Kinanthi .

1. Guru gatra = 6

Tembang Kinanthi memiliki 6 larik atau baris kalimat.

2. Guru wilangan = 8, 8, 8, 8, 8, 8,

Kalimat pertama berjumlah 8 suku kata. Kalimat ke dua berjumlah 8 suku kata. Kalimat ke tiga berjumlah 8 suku kata. Kalimat ke empat berjumlah 8 suku kata. Kalimat ke lima berjumlaj 8 suku kata. Kalimat ke enam 8 suku kata.

3. Guru lagu = u, i, a, i, a, i

Akhir suku kata dari setiap kalimatnya harus bervokal u, i, a, i, a, i

7.    Tembang Asmarandana

Tembang macapat tembang asmarandana

Tembang Asmarandana berasal dari kata ‘asmara’ yang berarti cinta kasih. Filosofi tembang Asmarandana adalah mengenai perjalanan hidup manusia yang sudah waktunya untuk memadu cinta kasih dengan pasangan hidup.

Dari segi pandang lain Asmaradana berasal dari kata asmara dan dhana. Asmara merupakan nama dewa percintaan. Dhana berasal dari kata dahana yang berarti api.

Asmaradana berkaitan dengan kajidian hangusnya dewa Asmara yang disebabkan oleh sorot mata ketiga dewa Siwa seperti yang dituliskan dalam Kakawin Smaradhana karya Mpu Darmaja. Dalam Serat Purwaukara Smaradhana diberi arti remen ing paweweh, berarti suka memberi.

Watak Asmarandana yaitu menggambarkan cinta kasih, asmara dan juga rasa pilu atau rasa sedih.

Contoh Tembang Asmarandana (8i – 8a – 8e – 7a – 8a – 8u – 8a)

Lumrah tumrap wong ngaurip
Dumunung sadhengah papan
Tan ngrasa cukup butuhe
Ngenteni rejeki tiba
Lamun tanpa makarya
Sengara bisa kepthuk
Kang mangkono bundhelana

 

Berikut penjelasan mengenai aturan guru gatra, guru lagu dan guru wilangan dari tembang Asmarandana .

1. Guru gatra = 7

Tembang Asmarandana memiliki 7 larik atau baris kalimat.

2. Guru wilangan = 8, 8, 8, 7, 8, 8, 8

Kalimat pertama berjumlah 8 suku kata. Kalimat ke dua berjumlah 8 suku kata. Kalimat ke tiga berjumlah 8 suku kata. Kalimat ke empat berjumlah 7 suku kata. Kalimat ke lima berjumlaj 8 suku kata. Kalimat ke enam berjumlah 8 suku kata, Kalimat ke tujuh berjumlah 8 suku kata.

3. Guru lagu = i, a, e, a, a, u, a

Akhir suku kata dari setiap kalimatnya harus bervokal i, a, e, a, a, u, a.

8.    Tembang Durma

Tembang macapat tembang durma

Durma memiliki arti pemberian. Tembang Durma mengandung filosofi tentang kehidupan yang suatu saat dapat mengalami duka, selisih dan juga kekurangan akan sesuatu.

Tembang Durma mengajarkan agar dalam hidup ini manusia dapat saling memberi dan melengkapi satu sama lain sehingga kehidupan bisa seimbang. Saling tolong menolong kepada siapa saja dengan hati yang ikhlas adalah nilai kehidupan yang harus selalu dijaga.

Dari segi lain Durma berasal dari kata Jawa klasik yang memiliki arti harimau. Dengan begitu Durma memiliki watak atau biasa digunakan dalam suasana seram. Dapat dikatakan tembang Durma seperti lagu yang digunakan di saat akan maju perang.

Dapat disimpulkan tembang Durma juga memilki watak yang tegas, keras dan penuh dengan amarah yang bergejolak.

Contoh Tembang Durma (12a – 7i – 6a – 7a – 8i – 5a – 7i)

Ayo kanca gugur gunung bebarengan
Aja ana kang mangkir
Amrih kasembadan
Tujuan pembangunan
Pager apik dalan resik
Latar gumelar
Wisma asri kaeksi

 

Berikut penjelasan mengenai aturan guru gatra, guru lagu dan guru wilangan dari tembang Durma .

1. Guru gatra = 7

Tembang Durma memiliki 7 larik atau baris kalimat.

2. Guru wilangan = 12, 7, 6, 7, 8, 5, 7

Kalimat pertama berjumlah 12 suku kata. Kalimat ke dua berjumlah 7 suku kata. Kalimat ke tiga berjumlah 6 suku kata. Kalimat ke empat berjumlah 7 suku kata. Kalimat ke lima berjumlaj 8 suku kata. Kalimat ke enam berjumlah 5 suku kata. Kalimat ke tujuh berjumlah 7 suku kata.

3. Guru lagu = a, i, a, a, i, a, i

Akhir suku kata dari setiap kalimatnya harus bervokal a, i, a, a, i, a, i.

9.    Tembang Pangkur

Tembang macapat tembang pangkur

Pangkur berasal dari kata ‘mungkur’ yang memiliki arti pergi atau meninggalkan. Tembang Pangkur memiliki filosofi yang menggambarkan kehidupan yang seharusnya dapat menjauhi berbagai hawa nafsu dan angkara murka.

Di saat mendapati sesuatu yang buruk hendaknya pergi menjauhi dan meninggalkan yang buruk tersebut. Tembang Pangkur menceritakan tentang seseorang yang sudah siap untuk meninggalkan segala sesuatu yang bersifat keduniawian dan mencoba mendekatkan diri kepada Tuhan.

Dari segi pandang lain, Pangkur berasal dari kata punggawa dalam kalangan kependetaan seperti tercantum di dalam piagam-piagam bahasa Jawa kuno.

Dalam Serat Purwaukara, Pangkur memiliki arti buntut atau ekor. Karena itu Pangkur terkadang diberi sasmita atau isyarat tut pungkur yang berarti mengekor, tut wuri dan tut wuntat yang berarti mengikuti.

Watak tembang Pangkur menggambarkan karakter yang gagah, kuat, perkasa dan hati yang besar. Tembang Pangkur cocok digunakan untuk mengisahkan kisah kepahlawanan, perjuangan serta peperangan.

Contoh Tembang Pangkur (8a – 11i – 8u – 7a – 8i – 5a – 7i)

Muwah ing sabarang karya
Ingprakara gedhe kalawan cilik
Papat iku datan kantun
Kanggo sadina-dina
Lan ing wengi nagara miwah ing dhusun
Kabeh kang padha ambegan
Papat iku nora lali

 

Berikut penjelasan mengenai aturan guru gatra, guru lagu dan guru wilangan dari tembang Pangkur .

1. Guru gatra = 7

Tembang Pangkur memiliki 7 larik atau baris kalimat.

2. Guru wilangan = 8, 11, 8, 7, 8, 5, 7

Kalimat pertama berjumlah 8 suku kata. Kalimat ke dua berjumlah 11 suku kata. Kalimat ke tiga berjumlah 8 suku kata. Kalimat ke empat berjumlah 7 suku kata. Kalimat ke lima berjumlaj 8 suku kata. Kalimat ke enam berjumlah 5 suku kata. Kalimat ke tujuh berjumlah 7 suku kata.

3. Guru lagu = a, i, u, a, i, a, i

Akhir suku kata dari setiap kalimatnya harus bervokal a, i, u, a, i, a, i.

Baca juga kumpulan Tembang Macapat Pangkur

10.    Tembang Sinom

tembang macapat tembang sinom

Kata Sinom memiliki arti pucuk yang baru tumbuh dan bersemi. Filosofi tembang Sinom menggambarkan seorang manusia yang mulai beranjak dewasa dan telah menjadi pemuda atau remaja yang mulai tumbuh.

Di saat menjadi remaja, tugas mereka adalah menuntut ilmu sebaik mungkin dan setinggi-tingginya agar bisa menjadi bekal kehidupan yang lebih baik kelak.

Dari segi pandang lain Sinom ada hubungannya dengan kata sinoman, yang memiliki arti perkumpulan para pemuda untuk membantu orang yang sedang punya hajat.

Ada juga yang berpendapat lain yang menyatakan bahwa sinom berkaitan dengan upacara bagi anak-anak muda zaman dulu. Bahkan sinom juga dapat merujuk pada daun pepohonan yang masih muda (kuncup), sehingga terkadang diberi isyarat dengan menggunakan lukisan daun muda. Di dalam Serat Purwaukara, Sinom berarti seskaring rambut yang memiliki arti anak rambut.

Contoh Tembang Sinom (8a – 8i – 8a – 8i – 7i – 8u – 7a – 8i – 12a)

Punika serat kawula
Katura sira wong kuning
Sapisan salam pandonga
Kapindo takon pawarti
Jare sirarsa laki
Ingsun mung sewu jumurung
Amung ta wekasi wang
Gelang alit mungging driji
Lamun sida aja lali kalih kula

 

Berikut penjelasan mengenai aturan guru gatra, guru lagu dan guru wilangan dari tembang Sinom .

1. Guru gatra = 9

Tembang Sinom memiliki 9 larik atau baris kalimat.

2. Guru wilangan = 8, 8, 8, 8, 7, 8, 7, 8, 12

Kalimat pertama berjumlah 8 suku kata. Kalimat ke dua berjumlah 8 suku kata. Kalimat ke tiga berjumlah 8 suku kata. Kalimat ke empat berjumlah 8 suku kata. Kalimat ke lima berjumlaj 7 suku kata. Kalimat ke enam berjumlah 8 suku kata. Kalimat ke tujuh berjumlah 7 suku kata. Kalimat ke delapan berjumlah 8 suku kata. Kalimat ke sembilan berjumlah 12 suku kata.

3. Guru lagu = a, i, a, i, i, u, a, i, a

Akhir suku kata dari setiap kalimatnya harus bervokal a, i, a, i, i, u, a, i, a.

11.   Tembang Dhandhanggula

Tembnag macapat tembang dhandhanggula

Kata Dhandhanggula berasal dari kata ‘dandang’ dan ‘gula’ yang berarti sesuatu yang manis. Filosofi tembang Dhandhanggula menggambarkan tentang kehidupan pasangan baru yang sedang berbahagia karena telah berhasil mendapatkan apa yang dicita-citakan.

Kehidupan manis merupakan suatu yang dirasakan bersama keluraga yang terasa begitu membahagiakan.
Dari segi pandang lain Dhandhanggula diambil dari nama raja Kediri yaitu Prabu Dhandhanggendis yang terkenal setelah Prabu Jayabaya. Dalam Serat Purwaukara, Dhandhanggula berarti ngajeng-ajeng kasaean yang memiliki arti menanti-nantikan kebaikan.

Watak tembang Dhandhanggula yaitu menggambarkan  sifat yang lebih universal atau luwes dan merasuk ke dalam hati. Tembang Dhandhanggula dapat digunakan untuk menuturkan kisah dalam berbagai hal dan kondisi apa pun.

Contoh tembang dhandanggula (10i – 10a – 8e – 7u – 9i – 7a – 6u – 8a – 12i – 7a)

Sinengkuyung sagunging prawali
Janma tuhu sekti mandra guna
Wali sanga nggih arane
Dhihin Syeh Magrib tuhu
Sunan ngampel kang kaping kalih
Tri sunan bonang ika
Sunan giri catur
Syarifudin sunan drajat
Anglenggahi urutan gangsal sayekti
Iku ta warnanira

 

Berikut penjelasan mengenai aturan guru gatra, guru lagu dan guru wilangan dari tembang Dhandhanggula .

1. Guru gatra = 10

Tembang Dhandhanggula memiliki 10 larik atau baris kalimat.

2. Guru wilangan = 10, 10, 8, 7, 9, 7, 6, 8, 12, 7

Kalimat pertama berjumlah 10 suku kata. Kalimat ke dua berjumlah 10 suku kata. Kalimat ke tiga berjumlah 8 suku kata. Kalimat ke empat berjumlah 7 suku kata. Kalimat ke lima berjumlaj 9 suku kata. Kalimat ke enam berjumlah 7 suku kata. Kalimat ke tujuh berjumlah 6 suku kata. Kalimat ke delapan berjumlah 8 suku kata. Kalimat ke sembilan berjumlah 12 suku kata. Kalimat ke sepuluh berjumlah 7 suku kata.

3. Guru lagu = i, a, e, u, i, a, u, a, i, a

Akhir suku kata dari setiap kalimatnya harus bervokal i, a, e, u, i, a, u, a, i, a.

 

Tembang macapat sampai sekarang masih cukup populer. Di sekolah juga masih diajarkan bahkan ada juga yang sampai diperlombakan. Hal ini merupakan sesuatu yang sangat baik untuk menjaga dan melestarikan tembang macapat.

Berikut Contoh Tembang Macapat Pocung:

Tembang macapat yang merupakan lagu Jawa ini merupakan kebanggaan bagi orang-orang Jawa. Tembang macapat selalu digunakan pada setiap acara penting yang diadakan orang Jawa. Hingga saat ini pun tembang macapat masih cukup populer.

Tembang macapat sekarang ini biasanya dipertunjukan dalam pertunjukan-pertunjukan tertentu, seperti hari peringatan, hari-hari besar orang Jawa, acara perlombaan, acara pernikahan, dan lain sebagainya. Tembang macapat juga banyak diminati oleh wisata-wisata asing, sehingga sering dipertunjukan juga untuk menjadi slah satu kesenian hiburan.

S

Sumber: http://kampoengilmu.com/tembang-macapat/

SERAT WULANGREH PUPUH SINOM

Posted on Updated on

 Piwulang ing serat wulangreh iku maneka warna. Pustaka kang ditulis dening Sunan Pakubuwono ka-IV arupa tembang iku ing saben pupuh tembange isi piwulang kang piguna kanggo sing gelem maca. Isi piwulange yaiku

1) Pupuh Dandhanggula isine bab cara milih guru;

2) Pupuh Kinanthi isine bab cara srawung utawa milih kancha;

3) Pupuh Gambuh isine larangan ndue watak adigang,adigung,adiguna ;

4) Pupuh Pangkur isine bab tata karma, mbedakake ala lan becik, sarta cara ndheleng wataking manungsa ;

5) Pupuh Maskumambang isine bab carane nyembah ;

6) Pupuh Dhudhuk wuluh isine cara ngawula marang raja ;

7) Pupuh Durma isine carane ngandhaleni hawa nepsu ;

8) Pupuh Wirangrong isine bab alabecik perilaku ;

9) Pupuh Pocung isine cara nyambung paseduluran lan mengerteni isining wacan ;

10) Pupuh Mijil isine bab cara pasrah lan syukur ;

11) Pupuk Asmarandhana isine bab nindhakake ajaran agama ;

12) Pupuh Sinom isine bab dhasar-dhasaring tingkah laku ;

13) pupuh girisa isine pesan sarta donga sang pujangga.

Mangga padha mulasara kabudayan Jawi iki, mligine pupuh sinom. PUPUH XII S I N O M 01 Ambeke kang wus utama, tan ngendhak gunaning jalmi, amiguna ing aguna, sasolahe kudu bathi, pintere den alingi, bodhone didokok ngayun, pamrihe den inaa, mring padha padhaning jalmi, suka bungah den ina sapadha-padha. Perilaku orang yang telah mencapai tataran sempurna tidak akan membatasi atau mencela kepandaian orang lain, kepandaiannya disembunyikan sedangkan kebodohannya ditampilkan agar dihina, jangan sampai ada yang menyebutnya pandai, ia merasa bahagia jika ada yang menghinanya

02 Ingsun uga tan mangkana, balilu kang sun alingi, kabisan sun dokok ngarsa, isin menek den arani, balilune angluwihi, nanging tenanipun cubluk, suprandene jroning tyas, lumaku ingaran wasis, tanpa ngrasa prandene sugih carita. Aku pun tidak begitu, kebodohankulah yang aku tutupi dan kepandaianku yang aku kedepankan karena malu jika disebut bodoh oleh orang lain, padahal aku bodoh namun ingin disebut pandai sehingga tanpa sadar (aku) banyak bercerita bohong

03 Tur ta duk masihe bocah, akeh temen kang nuruti, lakune wong kuna-kuna, lelabetan kang abecik, miwah carita ugi, kang kajaba saking embuk, iku kang aran kojah, suprandene ingsun iki, teka nora nana undaking kabisan. Padahal ketika aku masih kecil banyak yang bercerita tentang perilaku orang jaman dulu mengenai pengabdian yang baik serta cerita, termasuk cerita yang tidak benar adanya yang disebut dongeng, meskipun demikian, kepandaianku tidaklah bertambah

04 Carita nggonsun nenular, wong tuwa kang momong dingin, akeh kang padha cerita, sun rungokna rina wengi, samengko isih eling, sawise diwasa ingsun, bapa kang paring wulang, miwah ibu mituturi, tatakrama ing pratingkah karaharjan. Adapu cerita yang kuberikan ini kuturunkandari orang tua yang mengasuhku dulu, banyak cerita yang kudengarkan baik siang maupun malam sampai sekarang masih aku ingat. Setelah aku dewasa, ayah yang memberiku nasihat, sedangkan ibu yang mengingatkan tentang tata karma dan tingkah laku kebaikan

05 Nanging padha estokana, pitutur kang muni tulis, yen sira nedya raharja, anggone pitutur iki, nggoningsun ngeling-eling, pitutur wong sepuh-sepuh, mugi padha bisa, anganggo pitutur iki, ambrekati wuruke wong tuwa-tuwa. Namun turitilah nasihat yang tertulis ini, jika kau menghendaki keselamatan, laksanakan nasihat yang kuingat dari  tetua, mudah-mudahan kalian dapat melaksanakan nasihat ini, sebab ajaran orang tua akan membawa berkah

06 Lan aja nalimpang madha, mring leluhur dhingin dhingin, satindake den kawruhan, ngurangi dhahar lan guling, nggone ambanting dhiri, amasuh sariranipun, temene kang sinedya, mungguh wong nedheng Hyang Widdhi, lamun temen lawas enggale tinekan. Dan jangan ada yang berani mencela leluhur. Pahami laku berupa mengurangi makan dan tidur dengan cara ‘menyakiti’ diri untuk membersihkan diri sehingga akhirnya tercapai segala yang diinginkan. Adapun orang yang memohon kepada Yang Mahakuasa, cepat atau lambat akan dikabulkan jika sungguh-sungguh.

07 Hyang sukma pan sipat murah, njurungi kajating dasih, ingkang temen tinemenan, pan iku ujare Dalil, nyatane ana ugi, nenggih Ki Ageng Tarub, wiwitira nenedha, tan pedhot tumekeng siwi, wayah buyut canggah warenge kang tampa. Bukankah Yang Mahamulia itu memiliki sifat Mama Pemurah yang mengabulkan segala keinginan yang sungguh-sunguh. Bukankah demikian yang dikatakan hadits. Buktinya juga ada. Ki Ageng Tarub tak henti-hentinya memohon sehingga anak, cucu, buyut, canggah, wareng ikut mewarisinya

08 Panembahan senopatya, kang jumeneng ing Matawis, iku barang masa dhawuh, inggih ingkang Hyang Widdhi, saturune lestari, saking berkahing leluhur, mrih tulusing nugraha, ingkang keri keri iki, wajib uga niruwa lelakonira. Panembahan Senopati yang memerintah di Mataram pun berkesesuaian dengan dengan anugrah Yang Mahaesa keturunasnnya berkuasa turun temurun dari berkah leluhur . agar berkahmu lestari, seyogyanya kau ikuti laku.

09 Mring leluhur kina-kina, nggonira amati dhiri, iyasa kuwatanira, sakuwatira nglakoni, cegah turu sathithik, lan nyudaa dhaharipun, paribara bisaa, kaya ingkang dingin dingin, aniruwa sapretelon saprapatan. Para leluhur jaman dulu. ‘Menyiksa diri sudah barang tentu semampumu, semampu kau melaksanakannya. Kurangi sedikit tidur dan makanmu. Tidak perlu meniru seluruhnya perilaku leluhur, sepertiganya atau seperempat saja sudah cukup.

10 Pan ana silih bebasan, padha sinauwa ugi, lara sajroning kapenak, lan suka sajroning prihatin, lawan ingkang prihatin, mana suka ing jronipun, iku den sinauwa, lan mati sajroning urip, ingkang kuna pan mangkono kang den gulang. Bukankah ada peribahasa ‘belajarlah dalam nikmat, sakit dalam sehat, senang dalam penderitaan, prihatin dalam kesukaan, dan matilah dalam hidup. Begitulah laku orang jaman dulu.

11 Pamore gusti kawula, punika ingkang sayekti, dadine socaludira, iku den waspada ugi, gampange ta kaki, tembaga lan emas iku, linebur ing dahana, luluh awor dadi siji, mari nama tembaga tuwin kencana. Perhatikan pula manunggaling kawula gusti yangsesungguh-sungguhnya bagai sotyaludira (roh suci). Secara sederhana, Anakku, emas dan tembaga itu lebur dalam api, bercampur menjadi satu, hilanglah nama tembaga dan emasnya..

12 Yen aranana kencana, dene wus awor tembagi, yen aranana tembaga, wus kaworan kancanedi, milanya den westani, aran suwasa punika, pamore mas tembaga, mulane namane salin, lan rupane sayekti yen warna beda. Jika dinamakan emas sudah bercampur tembaga, jika disebut tembaga sudah bercampur dengan emas, oleh karenanya disebutlak suasa yang merupakan campuran mas dan tembaga. Adapun namanya berubah karena warna dan wujudya berubah.

13 Cahya abang tuntung jenar, puniku suwasa murni, kalamun gawe suwasa, tembaga kang nora becik, pambesate tan resik, utawa nom emasipun, iku dipunpandhinga, sorote pasthi tan sami, pan suwasa bubul arane punika. Suasa murni berwarna merah kekuning-kuningan . jika membuat suasa dengan tembaga yang tidak baik, pegolahannya tidak bersih, atau masnya muda,  maka tidak akan bercahaya, namanya pun suasa bubul.

14 Yen sira karya suwasana, darapon dadine becik, amilihana tembaga, oliha tembaga prusi, biresora kang resik, sarta masira kang sepuh, resik tan kawoworan, dhasar sari pasti dadi, iku kena ingaranan suwasa mulya. Jika kau ingin membuat suasa yang baik, pilihlah tembaga yang baik, syukur-syukur jika mendapatkan tembaga prusi, diolah dengan bersih, emas tua dengan dasar sari yang tidak tercampuri, hasilnya adalah suasa mulia.

15 Puniku mapan upama, tepane badan puniki, lamun karsa ngawruhana, pamore kawula Gusti, sayekti kudu resik, aja katempelan napsu, luwamah lan amarah, sarta suci lahir batin, pedimene apan sarira tunggal. Itu hanyalah sebuah perumpamaan sebagai ukuran badan ini. Jika kau ingin memahami manunggaling kawula gusti, sesungguhnya harus bersih, jangan terhinggapi nafsu lawamah dan nafsu amarah, serta suci lahir batin agar jiwamu hening.

16 Lamun mangkonoa, sayektine nora dadi, mungguh ilmu kang sanyata, nora kena den sasabi, ewoh gampang sayekti, punika wong darbe kawruh, gampang yen winicara, angel yen durung marengi, ing wetune binuka jroning wardaya. Jika tidak demikian, yakinlah tidak akan terjadi. Mempelajari ilmu yang sejati didak boleh diduakan. Bagi yang belum memperoleh pengetahuan memang repot jika tidak sungguh-sunguh. Mudah berbicara namun sulit jika belum terbuka.

17 Nanging ta sabarang karya, kang kinira dadi becik, pantes yen tinalatenan, lawas-lawas bok pinanggih, den mantep ing jro ngati, ngimanken tuduhing guru, aja uga bosenan, kalamun arsa udani, apan ana dalile kang wus kalawan. Namun demikian, segala hal yang diperkirakan baik, itu layak jika kau tekuni, lama-kelamaan juga akan kau temukan dan menetap dalam hatimu. Yakini petunjuk guru, jangan cepat bosan jika hendak mencapai kemuliaan karena memang demikianlah hukum yang sudah tertuang dalam dalil.

18 Marang leluhur sedaya, nggone nenedha mring Widhi, bisaa ambabonana, dadi ugere rat Jawi, saking telateneki, nggone katiban wahyu, ing mula mulanira, lakune leluhur dingin, andhap asor anggone anamur lampah. Seluruh leluhur jaman dulu dalam memohon kepada Yang Mahakuasa agar dapat menguasai Negara dan menjadi pusat tanah Jawa diperolehnya melalui wahyu karena mereka rendah hati  dalam melaksanakan laku.

19 Tampane nganggo alingan, pan padha alaku tani, iku kang kinaryo sasap, pamriha aja katawis, jub rina lawan kabir, sumungah ingkang den singkur, lan endi kang kanggonan, wahyune karaton Jawi, tinampelan anggape pan kumawula. Laku dilaksanakan secara diam-diam sambil bertani. Sikap seperti itu dilakukan agar tidak kentara serta bersikap tidak menyombongkan kemampuan diri bahkan mau mengabdi kepada siapapun yang memperoleh wahyu keraton jawa.

20 Punika laku utama, tumindak sarto kekaler, nora ngatingalke lampah, wadine kang den alingi, panedyane ing batin, pan jero pangarahipun, asore ngemurasa, prayoga tiniru ugi, anak putu aja ana ninggal lanjaran. (penyamaran) Itulah laku yang utama, tidak menampakkan bahwa ia sedang menjalankan laku, sehingga yang disamarkan itu merupakan cita-cita tersembunyi dalam hati, jauh dikejar karena di situlah manungaling kawula gusti mencapai kedalaman. Hal demikian baik jika ditiru, Anak cucuku agar tidak kehilangan keturunan

21 Lan maning ana wasiyat, prasapa kang dingin dingin, wajib padha kawruhana, anak putu ingkang kari, lan aja na kang wani, nerak wewaleripun, marang leluhur padha, kang minulyakaken ing Widdhi, muga-muga mufaatana ing darah. Dan ada lagi wasiat berupa tabu yang terucap pada jaman dulu. Wajib kau ketahui sebagai anak cucu yang terakhir, dan jangan ada yang berani melanggar tabu leluhur yang dimuliakan oleh Yang Mahaesa. Mudah-mudahan bermanfaat bagi keluarga besar.

22 Wiwitan ingkang prasapa, Ki Ageng Tarup memaling, ing satedhak turunira, tan linilan nganggo keris, miwah waos tan keni, kang awak waja puniku, lembu tan kena dhahar, daginge pan nora keni, anginguwa marang wong wadon tan kena. Yang pertama kali mengucapkan tabu adalah Ki Ageng Tarub. Ia berpesan agar keturunannya tidak mengenakan keris dan tumbak yang terbuat dari baja, tidak boleh makan daging sapi, dan tidak boleh memelihara abdi perempuan wandan .

23 Dene Ki ageng Sela, prasape ingkang tan keni, ing satedhak turunira, nyamping cindhe den waleri, kapindhone tan keni, ing ngarepan nandur waluh, wohe tan kena dhahar, Panembahan Senopati, ingalaga punika ingkang prasapa. Adapun Ki Ageng Sela mengucapkan tabu, bahwa keturunannya tidak diperbolehkan berkain cindai, tidak diperbolehkan menanam labu di depan rumah dan tidak boleh memakan buahnya. Panembahan Senapati Ingalaga mengucapkan tabu.

24 Ingkang tedhak turunira, mapan nora den lilani, anitiha kuda napas, lan malih dipun waleri, yen nungganga turangga, kang kakoncen surinipun, dhahar ngungkurken lawang, wuri tan ana nunggoni, dipun emut punika mesthitan kena. Bahwa keturunannya tidak diperkenankan mengendarai kda berwarna abu-abu kekuning-kuningan dan dilarang menunggang kuda yang surainya dikepang, makan membelakangi pintu kecuali di belakangnya ada yang menjaga. Ingatlah dan jangan ada yang melanggar itu .

25 Jeng Sultan Agung Mataram, apan nora anglilani, mring tedhake yen nitiha, kapal bendana yen jurit, nganggo waos tan keni, lamun linandheyan wregu, datan ingaken darah, yen tan bisa nembang kawi, pan prayoga satedake sinauwa. Kanjeng Sultan Agung Mataram mengucapkan tabu bahwa keturunannya tidak diperkenankan menunggang kyda yang rewel jika diajak bertempur, tidak memperkenankan tumbak ang bergagang kayu wregu vserta tidak akan diakui sebagai keturunan (Mataram) jika tidak dapat membaca tembang kawi dan mengharuskan belajar tembang kawi .

26 Jeng Sunan Pakubuwana, kang jumeneng ing Samawis, kondur madek ing Kartasura, prasapanira anenggih, tan linilan anitih, dipangga saturunipun, Sunan Prabu Mangkurat, waler mring saturunreki, tan rinilan ujung astana ing Betah. Kanjeng Sunan Pakubuwana yang dilantik di Semarang kemudian berkuasa di Kartasura mengucapkan tabu bahwa keturunannya tidak diperbolehkan menunggang gajah. Sunan Prabu Amangkurat mengucapkan tabu bahwa keturunannya dilarang berziarah ke makam Butuh.

27 Lawan tan kena nganggowa, dhuwung sarungan tan mawi, kandelan yen nitih kuda, kabeh aja na kang lali, lawan aja nggogampil, puniku prasapanipun, nenggih Kang jeng Susunan, Pakubuwana ping kalih, mring satedhak turunira linarangan. Jika sedang menungang kuda tidak boleh menyandangkeris tanpa pendhok. Janganlah kau meremehkan tabu-tabu di atas. Adapun Kanjeng Susuhunan Pakubuwana II mengucapkan tabu bahwa keturunannya dilarang.

28 Dhahar apyun nora kena, sinerat tan den lilani, nadyan nguntal linarangan, sapa kang padha nglakoni, narajang waler iki, pan kongsi kalebon apyun, pasti keneng prasapa, linabakken tedhakneki, Kanjeng Sunan ingkang sumare Nglawiyan. Madat, baik dihisap maupun dimakan. Barang siapa melanggar tabu dengan madat akan dikeluarkan dari daftar keturunan Kanjeng Sunan yang dimakamkan di Laweyan.

29 Prasapa Kangjeng Susunan, Pakubuwana kaping tri, mring satedhak turunira, apan nora den lilani, agawe andel ugi, wong sejen ing jinisipun, apan iku linarangan, anak putu wuri-wuri, poma aja wani anrajang prasapa. Adapun Kanjeng Susuhunan III mengucapkan tabu bahwa keturunannya tidak diperbolehkan mengangkat orang kepercayaan yang bukan berasal dari bangsa sejenis, serta anak cucu tidak diperkenankan melanggar larangan .

30 Wonten waler kaliwatan, saking luhur dingin dingin, linarangan angumbaha, wana Krendhawahaneki, dene kang amaleri, Sang Danan Jaya rumuhun, lan malih winaleran, kabeh tedhak ing Matawis, yen dolana mring wana tan kena. Masih ada tabu leluhur ang terlewat, yaitu dilarang merambah Hutan Krendhawana. Adapun yang mengucapkan tabu tersebut adalah Dananjaya. Ada lagi tabu bagi keturunan Mataram, yaitu tidak diperkenankan bermain-main di hutan atau rawa-rawa 31 Dene sesirikanira, yen tedhak ing Demak nenggih, mangangge wulung tan kena, ana kang nyenyirik malih, bebet lonthang tan keni, yeku yen tedhak Madiyun, lan payung dadaan abang, tedhak Madura tan keni, yen nganggowa bebathikan parang rusak. Adapun tabu bagi keturunan Demak adalah mengenakan pakaian berwarna ungu, tabu keturunan Madiun adalah kain panjang luntang dan paying berhias merah, tabu keturunan Madura adalah mengenakan batik bermotif parang rusak 32 Yen tedhak Kudus tak kena, yen dhahara daging sapi, yen tedhak Sumenep iku, nora kena ajang piring, watu tan den lilani, lawan kidang ulamipun, tan kena yen dhahara, miwah lamun dhahar ugi, nora kena ajang godhong pelasa. Keturunan Kudus tidak boleh makan daging sapi, keturunan Sumenep tidak diperkenankan makan dengan piring batu, makan daging kijang, dan dilarang menggunakan daun plasa sebagai alas makan 33 Kabeh anak putu padha, eling-elingan ywa lali, prasapa kang kuna-kuna, wewaler leluhur nguni, estokna away lali, aja nganti nemu dudu, kalamun wani nerak, pasti tan manggih basuki, Sinom salin Girisa ingkang atampa. Semua abak cucu, camkan dan jangan lupa tabu zaman kuno warisan leluhur, patuhilah jangan sampai ada yang melanggar. Barang siapa berani melanggar pasti tidak akan selamat dan yang mendengar ini supaya giris (girisa merupakan isyarat pola tembang berikutnya, yaitu girisa)

Cheap Offers: http://bit.ly/gadgets_cheap

Serat Wedhatama

Posted on

Wong Kapetakan's Blog

Serat Wédhatama (serat mangenani ajaran utama) nggih niku satunggaling rumpaka sastra Jawa Enggal kang saged digolongaken minangka moralistis-didaktis kang sekedik dipengaruhi Islam. Rumpaka punika secaos formal diserat dening Ngarsa Dalem Ingkang Wicaksana Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya Sri Mangkunegoro IV. Raja teng keraton Mangkunegaran Solo. Sanese kawentar keranten kapinterane marang elmu pangauning, piyambeke ugi kawentar keranten piyambeke mangrupiaken satunggaling tokoh ingkang sakti mandraguna, adil, lan arif bijaksana.  Lantaran olah laku spiritual kang mumpuni, piyambeke sedah kaliyan kasampurnan gesang sejati salebete ngadep Tuhan Ingkang Mahawisesa, nggih niku warangka manjing curiga atanapi anggayuh kamuksan, ngadep Gusti kaliyan raganipun sirna tan winekas.

Wonten indikasi nyaniya serat punika mboten diserat dening tiyang setunggal (Pigeaud, Rangga Warsita et all, 1967:110). Serat punika dianggep minangka salah satunggaling puncak estetika sastra Jawa abad kaping 19 lan gadah karakter mistik kang kiat. Wangune nggih niku tembang, kang biasa dipigunakaken teng zaman punika. Serat punika mangadeg ing atase 100 pupuh…

Lihat pos aslinya 5.275 kata lagi

SURO DIRO JOYONINGRAT LEBUR DENING PANGASTUTI

Posted on

SURO DIRO JOYONINGRAT LEBUR DENING PANGASTUTI
Suro Diro Joyonirat lebur Dening Pangastuti merupakan suatu ungkapan bahasa Jawa yang mempunyai makna teramat dalam dan merupakan peninggalan budaya para leluhur kita pada zaman dahulu. Ungkapan tersebut bisa dijadikan suatu motivasi bagi kita dalam menapaki jenjang spiritual yang agung sebagai wacana dalam mengarungi samudera kehidupan. Dari uraian kata perkata Suro Diro Joyoningrat Lebur Dening Pangastuti dapat diartikan sebagai berikut:
Suro = Keberanian. Dalam diri manusia, mempunyai sifat berani. Sifat berani tersebut kalau lepas dari kendali bisa mengarah untuk tindak kejahatan dan kesewenang-wenangan.
Diro = Kekuatan.
Kekuatan manusia bila diperdayakan akan menjadi kekuatan yang luar biasa, baik kekuatan lahir maupun kekuatan batin.
Joyo = Kejayaan.
Manakala manusia sudah mencapai puncak kejayaannya dan lepas dari kendali nurani yang terjadi adalah manusia tersebut menjadi sombong, congkak , angkuh atau jauh dari nilai2 moral agama.
Ningrat = bergelimang dengan kenikmatan duniawi
Ningrat disini bisa diartikan sebagai gelar kebangsawanan atau seorang pejabat yang serba kecukupan dan senantiasa hidup dalam gelimang harta.
Lebur = Hancur, Musnah
Lebur artinya hancur, sirna, tunduk atau menyerah kalah.
Dening = Dengan
Pangastuti = Kasih Sayang, Kebaikan, Manembah kepada Tuhan Yang Maha Kuasa
Dengan demikian pengertian secara umum kalimat “Surodiro Joyoningrat, Lebur Dening Pangastuti adalah Semua bentuk angkara murka yang bertahta dalam diri manusia akan sirna dengan Sifat lemah lembut, Kasih Sayang yang didasari dengan manembah kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Sumber : https://www.facebook.com/BAMBING.IN.THE.WORLD?hc_ref=NEWSFEED&fref=nf Baca entri selengkapnya »

Pusaka Hasta Brata

Posted on

Yoga Constantine's Blog

Dalam wacana falsafah pewayangan Jawa dikenal suatu konsepsi Ilmu Luhur yang menjadi prinsip dasar kepemimpinan A La Jawa.

Yakni ilmu “Hasta Brata” atau dikenal pula sebagai Wahyu Makutha Rama yang diterima Raden Arjuna setelah menjalani “laku” prihatin dengan cara Tapa Brata dan Tarak Brata (Lihat : serat Laksita Jati). 

Hasta berarti delapan, Brata adalah “laku” atau jalan spiritual/rohani.

Hasta Brata maknanya adalah delapan “laku” yang harus ditempuh seseorang bila sedang menjalankan tampuk kepemimpinan.

Kedelapan “laku” sebagai personifikasi delapan unsur alamiah yang dijadikan panutanwatak (Watak Wantun) seorang pemimpin.

Kedelapan unsur tersebut meliputi delapan karakter unsur-unsur alam yakni:

Bumi, Langit, Angin, Samudera-Air, Rembulan, Matahari, Api, dan Bintang.

Bila seorang pemimpin bersedia mengadopsi  8 karakter unsur alamiah tersebut, maka ia akan menjadi pemimpin atau raja yang adil, jujur, berwibawa, arif dan bijaksana.

Hal ini berlaku pula untuk masyarakat luas, bilamana seseorang dapat mengadopsi ilmu…

Lihat pos aslinya 3.850 kata lagi

SYEKH JANGKUNG YANG PENUH KAROMAH: Catatan perjalanan KWA ke Makamnya di Pati Jawa Tengah

Posted on

MARKAS KELUARGA BESAR KAMPUS WONG ALUS

Istimewanya perjalanan ‘spiritual’ kali ini adalah mengunjungi makam seorang wali sakti mandraguna yang menjadi ikon/penanda kekuatan lelaku para ahli tirakat, wirid dan dzikir. Dialah makam Syekh Jangkung (Saridin) di Pati Jawa Tengah. Syekh Jangkung dikenal sebagai murid para wali: Sunan Kudus, Sunan Muria, dan Sunan Kalijaga (Syekh Malaya) — Syekh Jangkung memanggil gurunya ini dengan sebutan “guru sejati” 

img-20161126-wa0019

img-20161126-wa0022-1Karomah Syekh Jangkung bernama asli Saridin ini melegenda hingga saat ini. Terungkaplah apa rahasia dibalik sosok sederhana yang sejak kecil dikenal wali ‘njadab’ ini dalam ajaran Syekh Jangkung yang ditulis Syekh Jangkung yaitu “Suluk Saridin”.

Suluk ini adalah bukti bahwa Syekh Jangkung adalah sosok penyebar Agama Islam di wilayah Grobogan (masa hidup Syekh Jangkung muda dan wilayan Pati (ketika dewasa) dan sekitarnya. Ajaran-ajaran Islam yang diajarkan para gurunya diteladani dan disebarkan di desa-desa dari mulut ke mulut. Tuah karomah sejarah hidupnya menjadi daya tarik bagi orang-orang Jawa. Mereka yang awalnya beragama Budha…

Lihat pos aslinya 3.997 kata lagi