tarbiyah

Puasa Dala’il Khairat

Posted on

HUKUM PUASA DALAIL AL-KHOIROT (AL-KHAIRAT)
1, 2 TAHUN ATAU LEBIH Puasa Dalail ul Khairat (Khoirot, Khayrat) selama 1, 2, 3, 6, atau 9 tahun. Dan dilakukan terus menerus.
Puasa ini konon bertujuan untuk mendapat karamah seperti kekayaan, kekebalan tubuh. Pantangannya
selama hidup, tidak boleh berzina, mabuk, maling, judi, sombong. Dalail ul Khairat itu sendiri adalah nama sebuah kitab wiridan yang ditulis oleh Sidi Muhammad ibn
Sulayman al-Jazuli al-Simlali (wafat th. 870 H/1465 M) seorang sufi dan mursyid tariqah asal Maroko.
Disebut puasa Dalail Khairat karena saat puasa Dalail al Khairat si pelaku juga sambil membaca wiridan
sholawat dan do’a yang terdapat di kitab Dalail al Khairat tersebut. Puasa dalail khairat ini tidak ada dasar Quran dan hadits. Ia hanyalah “ijtihad” kalangan sufi.[1]
Tentang boleh tidaknya, tergantung dari kapan atau pada hari apa seseorang melakukan puasa tersebut.
Apabila puasa tersebut tidak dilakukan pada hari-hari yang diharamkan atau dimakruhkan, maka
hukumnya mubah.

• Wirid (membaca secara rutin)
dalail khairat merupakan salah satu ritual yang kerap dijalani oleh
banyak santri di seantero nusantara.khususnya di
jekulo,ritual itu lazimnya juga dibarengi dengan
melakukan puasa dahr(tahunan)kitab dalail khoirat
yang dijadikan wirid berisi kumpulan shalawat khusus yang di kompilasi oleh Syekh Abu Abdillah
Muhammad bin Sulaiman Al-jazuli.
Shekh Jazuli menulisnya terilham oleh peristiwa yang
tak lazim,sesuatu yang diluar terkaan akal
sehatnya,suatu ketika ia berjalan ke Makkah untuk
menunaikan ibadah haji,dalam perjalanan itu ia singgah di sebuah desa kecil.saat itu waktu dzuhur
telah hampir habis.malang memang,tak ada seorang
pun yang dimintai pertolongan untuk mendapat air
wudlu.lama ia mencari,berputar mengitari arah yang
tak tentu,sampai akhirnya ia menemukan sebuah
sumur yang cukup dalam,namun sayang,tak ada alat untuk menimba.Al-Jazuli bingung bukan
main,sementara waktu dhuhur berlari semakin cepat.
Sejurus kemudian,datang sosok perempuan yang
masih berusia belia.ia mendekat kearah Syekh Al-
Jazuli,menyapanya,lalu terjadilah dialog singkat.
“Ya Syekh,mengapa anda Nampak kebingungan dan berputar-putar?”,Tanya anak itu dalam nada
kepolosan”waktu sholat dzuhur hamper habis,tapi
saya belum mendapatkan air untuk wudlu”jawab sang
Syekh.
Apakah dengan namamu yang masyhur itu tak bisa
sekedar mendapat air wudlu dalam sumur itu?”timpal puteri kecil itu spontan.
Selang sesaat,anak itu melangkah mendekat
sumur,menengok kebawah lalu meniupnya. Tiba-tiba
air mengalir disekitar sumur seperti sungai besar.
Melihat kejadian itu Sang Syekh terpanah,sejenak ia
terpaku.tak beberapa lama ia berujar,”aku bersumpah,demi kemahaagungan Allah,demi
kemahakuasaan-Nya,demi kemahasempurnaa-
Nya,demi nabi Muhammad,yang salawat salam atas
beliau,para sahabat,istri dan putra-putranya,saya
mohon agar kamu mau menceritakan
kepadaku,dengan apakah kamubisa mendapatkan martabatyang tinggi sehingga kamu mampu
mengeluarkan air dari sumur tanpa alat?” Dalam tatapan wajahnya yang datar,anak perempuan itu lalu menjawab,”Jika tidak karena sumpahmu itu,tentu aku tidak mau menceritakannya,saya mendapatkan keistimewaan yang demikian itu karena membaca shalawat kepada Nabi Muhammad.” Alkisah,setelah kejadian itu Sang Syekh kembali ke kota Faz dan menulis risalah Dalail Khairat. Selanjutnya,risalah itu diserahkan kepada Abu Abdillah al-shaghir untuk proses tashhih (editing).selama masa tashih itu,Sang Syekh melakukan khalwat(menyendiri)selama 14 tahun di
tanah kelahirannya,daerah jazula. Dari nama inilah beliau dikenal dengan julukan masyhurnya”al Jazuli. Pengamalan wirid dan puasa Pada dasarnya,istilah dalail khairat adalah istilah puasa dahr yang dibarengi dengan laku pembacaan shalawat dalail khairat. Tarekat ini salah satunya dilestarikan oleh hadhrotus syekh Ahmad Basyir. Ijazah dari beliau,puasa dalail khairat dilakukan selama tiga tahun berturut-turut,dengan tuntutan istiqomah wirid shalawat dalail khoirat. Puasa dalail khairat sering disebut dengan puasa dahr,artinya melaksanakan puasa secara berturut- turut dalam hitungan tahun.tata cara puasa ini sebagaimana puasa sunnah pada umumnya.puasa dalail khairat hakikatnya merupakan ikhtiar untuk tidak melewatkan hari-hari utama yang ada dalam tiap bulan dalam setahun. Tahapan yang paling pokok dalam laku puasa dalail khoirot adalah wirid shalawat.dalam kitab karangan
KH.Ahmad Basyir telah dipilah bagian-bagian yang dibaca tiap harinya selama seminggu berturut-turut. Shalawat Bertuah Shalawat adalah bukti bahwa rosulullah diutus benar- benar sebagai rahmat bagi seluruh alam,sehingga mengucapkan shalawat salam kepadanya selain memperoleh pahala,juga membuka pintu rizki. Dalam beberapa kesempatan KH.Ahmad Basyir acapkali menyampaikan bahwa dalail khairat merupakan salah satu ritual yang “manjur”untuk mendapatkan kemuliaan esok hari.”ENOME TIRAKAT TUWANE NEMU DERAJAT(Saat muda bertirakat,dihari tua mendapat derajat)demikian nasehat beliau kepada para santrinya.Nasehat khas beliau yang lain”DIKEBUK DALAILE,MAQBUL HAJATE”(Wirid dalailnya rutin,hajatnya akan terpenuhi). Ratusan santri dalailnya mengamini. Sebab,jauh hari rasulullah memang telah mewanti.jika seorang diantara umatnya mengalami kesulitan, maka pintu keluar kesulitan itu adalah shalawat.”barang siapa mengalami kesulitan hajat maka bershalawatlah atasku”,(Al-hadits) Kisah KH.Ahmad Basyir dalam kesempatan tausyiah melansir sebuah narasi hadits yang sangat menginspirasi. Rasulullah pernah didatangi oleh empat malaikat,yakni, Jibril,Mikail,Israfil dan Izrail.dalam pertemuan yang misterius itu Jibril berkata:”barang siapa yang mambaca shalawat sepuluh kali,maka aku akan menuntunya dan menggendongnya saat shirot al Mustaqim nanti.”lalu berkata pula Mikail:”aku akan memberinya minum dari telaga kautsar,maka ia tak akan merasa dahaga selamanya”, israfil tak mau kalah:aku akan bersujud kepada Allah,dan aku tidak akan mengangkat kepalaku hinggan Allah kerkenan mengeluarkan setiap orang yang membaca shalawat dari neraka”,dan terakhir Izrail,mengukuhkan ketiga saudaranya :”aku akan mencabut nyawanya sebagaimana aku mencabut nyawa para nabi”. Ihwal shalawat dalail khoirat yang dibarengi dengan puasa dahr,Syekh Ahmad Basyir,sapaan kyai sepuh yang mendekati usia 90 tahun ini menerangkan sebuah hadist,”barang siapa yang berpuasa tahunan,maka neraka jahannam tertutup untuknya” Terapi Religius Puasa dalail khairat tercipta sebagai kearifan beragama,bukan semata ritual kosong. Ia diciptakan untuk sebuah misi besar membangun mentalitas dan karakter religius umat islam.puasa dalail khairat adalah laku terapi religius yang membangun jiwa. Ihwal tujuan puasa dalail khairat,banyak berkah yang dapat diunduh darinya. Pertama,membangun jiwa. Seperti diungkap KH.Ahmad Badawi,putra ketiga dari Shekh Ahmad Basyir mengungkapkan bahwa wirid dalail dan puasa adalah dua ritual yang berbeda,yang tercipta untuk satu tujuan,menyucikan jiwa(tazkiat al nafs)

DALAIL KHAIRAT ADALAH DZIKIR SHALAWAT,SEDANGKAN PUASA ADALAH CARA UNTUK MENSUCIKAN JIWA. PENGAMAL PUASA DALAIL KHAIRAT ITU LISANNYA BERDZIKIR,HATINYA BERDZIKIR DAN BADANYA BERPUASA. PERPADUAN KEDUA AMALAN INI MENJADI TERAPI RELIGIUS BAGI PENGAMALNYA”TUTUR KH.AHMAD BADAWI. Kedua,tameng anti maksiat sebuah hadits masyhur
membeberkan bahwa puasa berfungsi sebagai wija’ menjadi tameng anti maksiat. Hadits ini mula-mula mendorong untuk menikah bagi yang sudah mampu,bagi yang belum ,seyogyanya mereka berpuasa,sehingga puasa itu menjadi dinding yang membentengingya dari godaan maksiat. Selain itu,shalawat juga menjadi tameng anti maksiat laiknya puasa. Kitab dalail khoirat yang ditulis Syekh Ahmad Basyir mengutip sebuah maqalah,fashrif hawaha bi al sholati muwadhiba”,(usirlah hawa nafsu dengan tekun membaca shalawat) Ketiga,budaya disiplin. Menurut KH.Muhammad Jazuli,putera kelima dari syekh Ahmad Basyir menyatakan bahwa puasa dalail khoirat tak ubahnya sebuah terapi yang melatih pribadi seorang pengamal. Dengan puasa secara kontinu,mereka akan terlatih untuk hidup teratur. Rutinitas makan sahur,berbuka,hingga ritual wirid Dalail Khoirat adalah praktek nyata kedisiplinan yang hendak dibangun puasa Dalail Khoirat. [2]
Nah lho… Jadi cowo tu enak yah. Ga ada tamu bulanan jadi bisa tu puasa selama itu. Mo setahun, dua tahun, tiga tahun dan seterusnya 😀
Hmmmm.. Kalo semua cowo di puasa dala’il khairat pasti dah kagak ada yang namanya pemerkosaan, kagak ada maling, kagak ada rampok, ape lagi KORUPTOR 😀 wihihihihi :p

*Sekian

[1] M. Syukron Maksum, Kedahsyatan Puasa,, Pustaka Marwa, Yogyakarta, Cet. II, 2009, hal. 121.
[2] id.shvoong.com/books/children-and-youth/2297345-puasa-dala-il-khairat-tirakat/

Baca entri selengkapnya »

Iklan

WEJANGAN KASEPUHAN” VERSI JAWA

Posted on

Rejeki iku ora iso ditiru,
Senajan podo lakumu,
Senajan podo dodolanmu,
Senajan podo nyambut gawemu, ….
Hasil sing ditompo bakal bedo2,
Iso bedo neng akehe bondo,
Iso ugo ono neng roso lan ayeming ati,
Yo iku sing jenenge bahagia….

Kabeh iku soko tresnane Gusti Kang Moho Kuoso…..,
Sopo temen bakal tinemu,
Sopo wani rekoso bakal gayuh mulyo.
Dudu akehe, nanging berkahe kang ndadekake cukup lan nyukupi…..

Wis ginaris neng takdire menungso yen opo sing urip kuwi wis disangoni soko sing kuwoso, Dalan urip lan pangane wis cemepak cedhak koyo angin sing disedhot sabendinane….,
Nanging kadhang menungso sulap moto lan peteng atine, sing adoh soko awake katon padhang cemlorot ngawe-awe,
Nanging sing cedhak neng ngarepe lan dadi tanggung jawabe disio-sio koyo ora duwe guno.

Rejeki iku wis cemepak soko Gusti, ora bakal kurang anane kanggo nyukupi butuhe menungso soko lair tekane pati….,
Nanging yen kanggo nuruti karep menungso sing ora ono watese, rasane kabeh cupet, neng pikiran ruwet, lan atine marahi bundhet.

Welinge wong tuwo, opo sing ono dilakoni lan opo sing durung ono ojo diarep-arep, semelehke atimu, yen wis dadi duwekmu bakal tinemu, yen ora jatahmu, opo maneh kok ngrebut soko wong liyo nganggo coro sing olo, yo dienteni wae, iku bakal gawe uripmu loro, rekoso lan angkoro murko sak jeroning kaluwargo, kabeh iku bakal sirno balik dadi sakmestine.

Yen umpomo ayem iku mung biso dituku karo akehe bondho endahno rekasane dadi wong sing ora duwe
Untunge ayem iso diduweni sopo wae sing gelem ngleremke atine ing bab kadonyan, seneng tetulung marang liyan, lan pasrahke uripe marang GUSTI KANG MAHA SUCI

Sumber : https://www.facebook.com/groups/mantan.waras/?multi_permalinks=1188631191245256&notif_t=group_highlights&notif_id=1493329788725389

SERAT WULANGREH PUPUH SINOM

Posted on Updated on

 Piwulang ing serat wulangreh iku maneka warna. Pustaka kang ditulis dening Sunan Pakubuwono ka-IV arupa tembang iku ing saben pupuh tembange isi piwulang kang piguna kanggo sing gelem maca. Isi piwulange yaiku

1) Pupuh Dandhanggula isine bab cara milih guru;

2) Pupuh Kinanthi isine bab cara srawung utawa milih kancha;

3) Pupuh Gambuh isine larangan ndue watak adigang,adigung,adiguna ;

4) Pupuh Pangkur isine bab tata karma, mbedakake ala lan becik, sarta cara ndheleng wataking manungsa ;

5) Pupuh Maskumambang isine bab carane nyembah ;

6) Pupuh Dhudhuk wuluh isine cara ngawula marang raja ;

7) Pupuh Durma isine carane ngandhaleni hawa nepsu ;

8) Pupuh Wirangrong isine bab alabecik perilaku ;

9) Pupuh Pocung isine cara nyambung paseduluran lan mengerteni isining wacan ;

10) Pupuh Mijil isine bab cara pasrah lan syukur ;

11) Pupuk Asmarandhana isine bab nindhakake ajaran agama ;

12) Pupuh Sinom isine bab dhasar-dhasaring tingkah laku ;

13) pupuh girisa isine pesan sarta donga sang pujangga.

Mangga padha mulasara kabudayan Jawi iki, mligine pupuh sinom. PUPUH XII S I N O M 01 Ambeke kang wus utama, tan ngendhak gunaning jalmi, amiguna ing aguna, sasolahe kudu bathi, pintere den alingi, bodhone didokok ngayun, pamrihe den inaa, mring padha padhaning jalmi, suka bungah den ina sapadha-padha. Perilaku orang yang telah mencapai tataran sempurna tidak akan membatasi atau mencela kepandaian orang lain, kepandaiannya disembunyikan sedangkan kebodohannya ditampilkan agar dihina, jangan sampai ada yang menyebutnya pandai, ia merasa bahagia jika ada yang menghinanya

02 Ingsun uga tan mangkana, balilu kang sun alingi, kabisan sun dokok ngarsa, isin menek den arani, balilune angluwihi, nanging tenanipun cubluk, suprandene jroning tyas, lumaku ingaran wasis, tanpa ngrasa prandene sugih carita. Aku pun tidak begitu, kebodohankulah yang aku tutupi dan kepandaianku yang aku kedepankan karena malu jika disebut bodoh oleh orang lain, padahal aku bodoh namun ingin disebut pandai sehingga tanpa sadar (aku) banyak bercerita bohong

03 Tur ta duk masihe bocah, akeh temen kang nuruti, lakune wong kuna-kuna, lelabetan kang abecik, miwah carita ugi, kang kajaba saking embuk, iku kang aran kojah, suprandene ingsun iki, teka nora nana undaking kabisan. Padahal ketika aku masih kecil banyak yang bercerita tentang perilaku orang jaman dulu mengenai pengabdian yang baik serta cerita, termasuk cerita yang tidak benar adanya yang disebut dongeng, meskipun demikian, kepandaianku tidaklah bertambah

04 Carita nggonsun nenular, wong tuwa kang momong dingin, akeh kang padha cerita, sun rungokna rina wengi, samengko isih eling, sawise diwasa ingsun, bapa kang paring wulang, miwah ibu mituturi, tatakrama ing pratingkah karaharjan. Adapu cerita yang kuberikan ini kuturunkandari orang tua yang mengasuhku dulu, banyak cerita yang kudengarkan baik siang maupun malam sampai sekarang masih aku ingat. Setelah aku dewasa, ayah yang memberiku nasihat, sedangkan ibu yang mengingatkan tentang tata karma dan tingkah laku kebaikan

05 Nanging padha estokana, pitutur kang muni tulis, yen sira nedya raharja, anggone pitutur iki, nggoningsun ngeling-eling, pitutur wong sepuh-sepuh, mugi padha bisa, anganggo pitutur iki, ambrekati wuruke wong tuwa-tuwa. Namun turitilah nasihat yang tertulis ini, jika kau menghendaki keselamatan, laksanakan nasihat yang kuingat dari  tetua, mudah-mudahan kalian dapat melaksanakan nasihat ini, sebab ajaran orang tua akan membawa berkah

06 Lan aja nalimpang madha, mring leluhur dhingin dhingin, satindake den kawruhan, ngurangi dhahar lan guling, nggone ambanting dhiri, amasuh sariranipun, temene kang sinedya, mungguh wong nedheng Hyang Widdhi, lamun temen lawas enggale tinekan. Dan jangan ada yang berani mencela leluhur. Pahami laku berupa mengurangi makan dan tidur dengan cara ‘menyakiti’ diri untuk membersihkan diri sehingga akhirnya tercapai segala yang diinginkan. Adapun orang yang memohon kepada Yang Mahakuasa, cepat atau lambat akan dikabulkan jika sungguh-sungguh.

07 Hyang sukma pan sipat murah, njurungi kajating dasih, ingkang temen tinemenan, pan iku ujare Dalil, nyatane ana ugi, nenggih Ki Ageng Tarub, wiwitira nenedha, tan pedhot tumekeng siwi, wayah buyut canggah warenge kang tampa. Bukankah Yang Mahamulia itu memiliki sifat Mama Pemurah yang mengabulkan segala keinginan yang sungguh-sunguh. Bukankah demikian yang dikatakan hadits. Buktinya juga ada. Ki Ageng Tarub tak henti-hentinya memohon sehingga anak, cucu, buyut, canggah, wareng ikut mewarisinya

08 Panembahan senopatya, kang jumeneng ing Matawis, iku barang masa dhawuh, inggih ingkang Hyang Widdhi, saturune lestari, saking berkahing leluhur, mrih tulusing nugraha, ingkang keri keri iki, wajib uga niruwa lelakonira. Panembahan Senopati yang memerintah di Mataram pun berkesesuaian dengan dengan anugrah Yang Mahaesa keturunasnnya berkuasa turun temurun dari berkah leluhur . agar berkahmu lestari, seyogyanya kau ikuti laku.

09 Mring leluhur kina-kina, nggonira amati dhiri, iyasa kuwatanira, sakuwatira nglakoni, cegah turu sathithik, lan nyudaa dhaharipun, paribara bisaa, kaya ingkang dingin dingin, aniruwa sapretelon saprapatan. Para leluhur jaman dulu. ‘Menyiksa diri sudah barang tentu semampumu, semampu kau melaksanakannya. Kurangi sedikit tidur dan makanmu. Tidak perlu meniru seluruhnya perilaku leluhur, sepertiganya atau seperempat saja sudah cukup.

10 Pan ana silih bebasan, padha sinauwa ugi, lara sajroning kapenak, lan suka sajroning prihatin, lawan ingkang prihatin, mana suka ing jronipun, iku den sinauwa, lan mati sajroning urip, ingkang kuna pan mangkono kang den gulang. Bukankah ada peribahasa ‘belajarlah dalam nikmat, sakit dalam sehat, senang dalam penderitaan, prihatin dalam kesukaan, dan matilah dalam hidup. Begitulah laku orang jaman dulu.

11 Pamore gusti kawula, punika ingkang sayekti, dadine socaludira, iku den waspada ugi, gampange ta kaki, tembaga lan emas iku, linebur ing dahana, luluh awor dadi siji, mari nama tembaga tuwin kencana. Perhatikan pula manunggaling kawula gusti yangsesungguh-sungguhnya bagai sotyaludira (roh suci). Secara sederhana, Anakku, emas dan tembaga itu lebur dalam api, bercampur menjadi satu, hilanglah nama tembaga dan emasnya..

12 Yen aranana kencana, dene wus awor tembagi, yen aranana tembaga, wus kaworan kancanedi, milanya den westani, aran suwasa punika, pamore mas tembaga, mulane namane salin, lan rupane sayekti yen warna beda. Jika dinamakan emas sudah bercampur tembaga, jika disebut tembaga sudah bercampur dengan emas, oleh karenanya disebutlak suasa yang merupakan campuran mas dan tembaga. Adapun namanya berubah karena warna dan wujudya berubah.

13 Cahya abang tuntung jenar, puniku suwasa murni, kalamun gawe suwasa, tembaga kang nora becik, pambesate tan resik, utawa nom emasipun, iku dipunpandhinga, sorote pasthi tan sami, pan suwasa bubul arane punika. Suasa murni berwarna merah kekuning-kuningan . jika membuat suasa dengan tembaga yang tidak baik, pegolahannya tidak bersih, atau masnya muda,  maka tidak akan bercahaya, namanya pun suasa bubul.

14 Yen sira karya suwasana, darapon dadine becik, amilihana tembaga, oliha tembaga prusi, biresora kang resik, sarta masira kang sepuh, resik tan kawoworan, dhasar sari pasti dadi, iku kena ingaranan suwasa mulya. Jika kau ingin membuat suasa yang baik, pilihlah tembaga yang baik, syukur-syukur jika mendapatkan tembaga prusi, diolah dengan bersih, emas tua dengan dasar sari yang tidak tercampuri, hasilnya adalah suasa mulia.

15 Puniku mapan upama, tepane badan puniki, lamun karsa ngawruhana, pamore kawula Gusti, sayekti kudu resik, aja katempelan napsu, luwamah lan amarah, sarta suci lahir batin, pedimene apan sarira tunggal. Itu hanyalah sebuah perumpamaan sebagai ukuran badan ini. Jika kau ingin memahami manunggaling kawula gusti, sesungguhnya harus bersih, jangan terhinggapi nafsu lawamah dan nafsu amarah, serta suci lahir batin agar jiwamu hening.

16 Lamun mangkonoa, sayektine nora dadi, mungguh ilmu kang sanyata, nora kena den sasabi, ewoh gampang sayekti, punika wong darbe kawruh, gampang yen winicara, angel yen durung marengi, ing wetune binuka jroning wardaya. Jika tidak demikian, yakinlah tidak akan terjadi. Mempelajari ilmu yang sejati didak boleh diduakan. Bagi yang belum memperoleh pengetahuan memang repot jika tidak sungguh-sunguh. Mudah berbicara namun sulit jika belum terbuka.

17 Nanging ta sabarang karya, kang kinira dadi becik, pantes yen tinalatenan, lawas-lawas bok pinanggih, den mantep ing jro ngati, ngimanken tuduhing guru, aja uga bosenan, kalamun arsa udani, apan ana dalile kang wus kalawan. Namun demikian, segala hal yang diperkirakan baik, itu layak jika kau tekuni, lama-kelamaan juga akan kau temukan dan menetap dalam hatimu. Yakini petunjuk guru, jangan cepat bosan jika hendak mencapai kemuliaan karena memang demikianlah hukum yang sudah tertuang dalam dalil.

18 Marang leluhur sedaya, nggone nenedha mring Widhi, bisaa ambabonana, dadi ugere rat Jawi, saking telateneki, nggone katiban wahyu, ing mula mulanira, lakune leluhur dingin, andhap asor anggone anamur lampah. Seluruh leluhur jaman dulu dalam memohon kepada Yang Mahakuasa agar dapat menguasai Negara dan menjadi pusat tanah Jawa diperolehnya melalui wahyu karena mereka rendah hati  dalam melaksanakan laku.

19 Tampane nganggo alingan, pan padha alaku tani, iku kang kinaryo sasap, pamriha aja katawis, jub rina lawan kabir, sumungah ingkang den singkur, lan endi kang kanggonan, wahyune karaton Jawi, tinampelan anggape pan kumawula. Laku dilaksanakan secara diam-diam sambil bertani. Sikap seperti itu dilakukan agar tidak kentara serta bersikap tidak menyombongkan kemampuan diri bahkan mau mengabdi kepada siapapun yang memperoleh wahyu keraton jawa.

20 Punika laku utama, tumindak sarto kekaler, nora ngatingalke lampah, wadine kang den alingi, panedyane ing batin, pan jero pangarahipun, asore ngemurasa, prayoga tiniru ugi, anak putu aja ana ninggal lanjaran. (penyamaran) Itulah laku yang utama, tidak menampakkan bahwa ia sedang menjalankan laku, sehingga yang disamarkan itu merupakan cita-cita tersembunyi dalam hati, jauh dikejar karena di situlah manungaling kawula gusti mencapai kedalaman. Hal demikian baik jika ditiru, Anak cucuku agar tidak kehilangan keturunan

21 Lan maning ana wasiyat, prasapa kang dingin dingin, wajib padha kawruhana, anak putu ingkang kari, lan aja na kang wani, nerak wewaleripun, marang leluhur padha, kang minulyakaken ing Widdhi, muga-muga mufaatana ing darah. Dan ada lagi wasiat berupa tabu yang terucap pada jaman dulu. Wajib kau ketahui sebagai anak cucu yang terakhir, dan jangan ada yang berani melanggar tabu leluhur yang dimuliakan oleh Yang Mahaesa. Mudah-mudahan bermanfaat bagi keluarga besar.

22 Wiwitan ingkang prasapa, Ki Ageng Tarup memaling, ing satedhak turunira, tan linilan nganggo keris, miwah waos tan keni, kang awak waja puniku, lembu tan kena dhahar, daginge pan nora keni, anginguwa marang wong wadon tan kena. Yang pertama kali mengucapkan tabu adalah Ki Ageng Tarub. Ia berpesan agar keturunannya tidak mengenakan keris dan tumbak yang terbuat dari baja, tidak boleh makan daging sapi, dan tidak boleh memelihara abdi perempuan wandan .

23 Dene Ki ageng Sela, prasape ingkang tan keni, ing satedhak turunira, nyamping cindhe den waleri, kapindhone tan keni, ing ngarepan nandur waluh, wohe tan kena dhahar, Panembahan Senopati, ingalaga punika ingkang prasapa. Adapun Ki Ageng Sela mengucapkan tabu, bahwa keturunannya tidak diperbolehkan berkain cindai, tidak diperbolehkan menanam labu di depan rumah dan tidak boleh memakan buahnya. Panembahan Senapati Ingalaga mengucapkan tabu.

24 Ingkang tedhak turunira, mapan nora den lilani, anitiha kuda napas, lan malih dipun waleri, yen nungganga turangga, kang kakoncen surinipun, dhahar ngungkurken lawang, wuri tan ana nunggoni, dipun emut punika mesthitan kena. Bahwa keturunannya tidak diperkenankan mengendarai kda berwarna abu-abu kekuning-kuningan dan dilarang menunggang kuda yang surainya dikepang, makan membelakangi pintu kecuali di belakangnya ada yang menjaga. Ingatlah dan jangan ada yang melanggar itu .

25 Jeng Sultan Agung Mataram, apan nora anglilani, mring tedhake yen nitiha, kapal bendana yen jurit, nganggo waos tan keni, lamun linandheyan wregu, datan ingaken darah, yen tan bisa nembang kawi, pan prayoga satedake sinauwa. Kanjeng Sultan Agung Mataram mengucapkan tabu bahwa keturunannya tidak diperkenankan menunggang kyda yang rewel jika diajak bertempur, tidak memperkenankan tumbak ang bergagang kayu wregu vserta tidak akan diakui sebagai keturunan (Mataram) jika tidak dapat membaca tembang kawi dan mengharuskan belajar tembang kawi .

26 Jeng Sunan Pakubuwana, kang jumeneng ing Samawis, kondur madek ing Kartasura, prasapanira anenggih, tan linilan anitih, dipangga saturunipun, Sunan Prabu Mangkurat, waler mring saturunreki, tan rinilan ujung astana ing Betah. Kanjeng Sunan Pakubuwana yang dilantik di Semarang kemudian berkuasa di Kartasura mengucapkan tabu bahwa keturunannya tidak diperbolehkan menunggang gajah. Sunan Prabu Amangkurat mengucapkan tabu bahwa keturunannya dilarang berziarah ke makam Butuh.

27 Lawan tan kena nganggowa, dhuwung sarungan tan mawi, kandelan yen nitih kuda, kabeh aja na kang lali, lawan aja nggogampil, puniku prasapanipun, nenggih Kang jeng Susunan, Pakubuwana ping kalih, mring satedhak turunira linarangan. Jika sedang menungang kuda tidak boleh menyandangkeris tanpa pendhok. Janganlah kau meremehkan tabu-tabu di atas. Adapun Kanjeng Susuhunan Pakubuwana II mengucapkan tabu bahwa keturunannya dilarang.

28 Dhahar apyun nora kena, sinerat tan den lilani, nadyan nguntal linarangan, sapa kang padha nglakoni, narajang waler iki, pan kongsi kalebon apyun, pasti keneng prasapa, linabakken tedhakneki, Kanjeng Sunan ingkang sumare Nglawiyan. Madat, baik dihisap maupun dimakan. Barang siapa melanggar tabu dengan madat akan dikeluarkan dari daftar keturunan Kanjeng Sunan yang dimakamkan di Laweyan.

29 Prasapa Kangjeng Susunan, Pakubuwana kaping tri, mring satedhak turunira, apan nora den lilani, agawe andel ugi, wong sejen ing jinisipun, apan iku linarangan, anak putu wuri-wuri, poma aja wani anrajang prasapa. Adapun Kanjeng Susuhunan III mengucapkan tabu bahwa keturunannya tidak diperbolehkan mengangkat orang kepercayaan yang bukan berasal dari bangsa sejenis, serta anak cucu tidak diperkenankan melanggar larangan .

30 Wonten waler kaliwatan, saking luhur dingin dingin, linarangan angumbaha, wana Krendhawahaneki, dene kang amaleri, Sang Danan Jaya rumuhun, lan malih winaleran, kabeh tedhak ing Matawis, yen dolana mring wana tan kena. Masih ada tabu leluhur ang terlewat, yaitu dilarang merambah Hutan Krendhawana. Adapun yang mengucapkan tabu tersebut adalah Dananjaya. Ada lagi tabu bagi keturunan Mataram, yaitu tidak diperkenankan bermain-main di hutan atau rawa-rawa 31 Dene sesirikanira, yen tedhak ing Demak nenggih, mangangge wulung tan kena, ana kang nyenyirik malih, bebet lonthang tan keni, yeku yen tedhak Madiyun, lan payung dadaan abang, tedhak Madura tan keni, yen nganggowa bebathikan parang rusak. Adapun tabu bagi keturunan Demak adalah mengenakan pakaian berwarna ungu, tabu keturunan Madiun adalah kain panjang luntang dan paying berhias merah, tabu keturunan Madura adalah mengenakan batik bermotif parang rusak 32 Yen tedhak Kudus tak kena, yen dhahara daging sapi, yen tedhak Sumenep iku, nora kena ajang piring, watu tan den lilani, lawan kidang ulamipun, tan kena yen dhahara, miwah lamun dhahar ugi, nora kena ajang godhong pelasa. Keturunan Kudus tidak boleh makan daging sapi, keturunan Sumenep tidak diperkenankan makan dengan piring batu, makan daging kijang, dan dilarang menggunakan daun plasa sebagai alas makan 33 Kabeh anak putu padha, eling-elingan ywa lali, prasapa kang kuna-kuna, wewaler leluhur nguni, estokna away lali, aja nganti nemu dudu, kalamun wani nerak, pasti tan manggih basuki, Sinom salin Girisa ingkang atampa. Semua abak cucu, camkan dan jangan lupa tabu zaman kuno warisan leluhur, patuhilah jangan sampai ada yang melanggar. Barang siapa berani melanggar pasti tidak akan selamat dan yang mendengar ini supaya giris (girisa merupakan isyarat pola tembang berikutnya, yaitu girisa)

Cheap Offers: http://bit.ly/gadgets_cheap

Iklas

Posted on Updated on

Sesungguhnya al quran diturunkan dengan kebenaran, hendak hanya beribadah memurnikan hanya kepada Allah. Iklas maknanya pencucian , dibersihkan. Ada sepotong daging didalam jasad, kalau dia bersih maka bersihlah seluruh tubuh bersih. Kalau hati rusak maka seluruh tubuh akan rusak . Segumpal darah itu qalbu. Muklisin dia beribadah seluruhnya ditunjukan Allah swt semata. Maka orang muhlasin orang dipilih Allah. Al muhlisin hanya bertuhan Allah semata. Kalimatullah iklas Laillahaillah.

Sesungguhnya Allah tidak melihat bentuk fisik,harta tetapi Allah melihat hati dan amalan. Kesukses dunia orang berusaha. Orang sukses akhirat maka hati iklas. Iklas bermakna tidak musrik, beribadah karena mahluk Allah maka bagai debu bertebaran tanpa bekas ditempatkan didasar neraka jahanam dan tidak dapat seorang pun dapat menolongnya. Kecuali orang yang bertaubat dan mengiklaskan kepada Allah semata. Diperbaiki ibadahnya Iklas semata Allah. Beribadah dengan iklas, secara mencontoh Rosul secara istiqomah. Ibadah sedikit dengan iklas akan bermanfaat. Ibadah banyak tanpa iklas akan sia sia tanpa ada manfaatnya.

Kalimah toyibah

Posted on

Dari jabir ra dari nabi saw beliu bersabda afdol zikir Lailahaillah afdol doa Alhamdulillah.  Sumber agama adalah kalimat tauhid . Ibnu abas barang siapa memgucapkan Laaillahailah hendak diikuti dengan Alhamdulillah. Pengabdian seorang hamba kepada pencipta itu kerena hidayah semata dari Allah. Mahluk bisa kedudukan,kemulyaan,ketenaran,harta ,wanita ,kelompok yang dapat menarik  dari berpaling dari Allah.  Kalimat Laaillahaillah memberikan pemahaman untuk hidup konsekunsi untuk hidup perbuatan sesuai perkataan. Mengangunkan dan pengesaan. Sedau gurau dan basa basi dapat mengugurkan amal dan iman karena ada sifat ujub dan sombong. Menanamkan apaun yang terjadi hanya kebetulan saja tapi semua atas kodrat irodat dari Allah swt.
Kalimat Laailaahailah bila ditimbang akan lebih berat dari tujuh lapis bumi dan tujuh lapis langit.

Nasehat

Posted on

Jaga kamu dan keluarga dari api neraka. Nasihat dalam agama ditempatkan dalam kedudukan paling tinggi. Yang pertama adalah nasehat pada diri sendiri. Agama adalah nasehat. Nasehat kepada diri dan ahli keluarga ,anak  dan istri . Nasehat agar merasa malu pada Allah. Halusnya budi seseorang besarnya rasa malu kepada Allah swt. Nabi berwasiat Agar bertaqwa kepada Allah swt. Usahakan selalu meningkatkan taqwa. Taqwa adalah berjihad mengamalkan ajaran syarat  Allah swt dan ajaran Rosul. Kufur, fasik  dan maksiat durhaka kepada Allah. Kufur nikmat, tidak menjalankan ibadah sampai kapan ,apa ndak malu kepada Allah . Nanti rasakan pada sakratul maut dan azab kubur dan akhirat.  Berkumpulah dengan orang saleh, jangan berkumpul  duduk dan makan bersama orang fasik dan kafir. Jihad adalah hadiah pemberian Allah kepada umat Islam. Berjihad membentuk keluarga yang taat dan rajin ibadah. Nasehat jangan agar selalu berzikir. Zikir adalah hartamu yang tidak bisa hilang. Kalau kamu mendirikan sholat lakukan dengan tenang jangan tergesa gesa. Beristigfar kalau diubun ubun kita selalu diiringi berbagai bala yang selalu mengintai. Nasehat jangan berhenti membaca qur’an. Satu hari tidak membaca qur’an berarti durhaka kepada Allah. Allah akan memberilakan rezeki tanpa henti rahmat. Diberikan rejeli halal,tayiban dan barokah. Bila telah menghatamkan qur’an dan membaca doa katam qur’an maka ada 6000 malaikat mencucuri rahmat. Manakala membaCa qur’an tentram dibumi tentram dilangit. Orang membaca qur’an tinggi derajatnya disisi Allah. Kubur nya menjadi taman surga. Nabi mewasiatkan nanpak atau tidak nampak oleh manusia kamu takut kepada Allah. Bila kamu berbuat dosa atau maksiat segera bertaubat dan beristighfar mohon ampun kepada Allah. Biasakan kamu hidup bersandar kepada Allah jangan bersandar kepada manusia. Jangan kau terima satu amanahpun bila kau tidak mampu untuk menjalankan amanah tersebut. Amanah Allah 99 nama Allah dihafalkan dan diamalkan

image

Menunaikan bayar hutang

Posted on

Salah seorang bani isroil dia berniat menunaikan bayar hutang dalam berhutang ingin memanggil saksi berhutang 1000 dirham kepada seorang bani isroil Yang diajak mengatakan cukuplah Allah sebagai saksi. Kalau begitu datangkan seorang yang menanggung. Namun begitu cukuplah Allah sebagai penanggung. Maka kemudian dipijamkan 1000 dinar dengan waktu yang ditentukan. Setelah itu ia pergi menyeberang lautan. Pada waktu di akan membayar tidak menemukan kapal untuk membayar. Maka dibuat kayu dan dibungkus uang 1000 dinar dan memasukan selembar surat dia datang ke pantai ditempat kapal berlabuh. Ya Allah engkau mengetahui bahwa fulan telah meminjamkan uang dan sebagai saksi dan penanggung adalah Allah maka kutitipan uang 1000 dilemparkan uang dan kayu serta surat sampi uang itu hilang dari pandangan mata. Dan uang itu mengapung sampai diseberang pantai. Dan karena sudah waktu yang meminjamkan mengutus orang untuk menunggu di pantai dan menemukan kayu yang berisi uang 1000 dinar dan surat untuk si fulan.