CERITA

SULUK LINGLUNG SUNAN KALIJAGA

Posted on

SECARA etimologi “suluk” berarti mistis, atau jalan menuju kesempurnaan batin. Di samping pengertian tersebut dalam perspektif lain suluk diartikan sebagai “khalwat,” pengasingan diri dan ilmu-ilmu tentang tasawuf atau mistis. Dalam sastra Jawa suluk berarti ajaran, falsafah untuk mencari hubungan dan persatuan manusia dengan Tuhan, sedangkan dalam seni pendalangan suluk dapat diartikan sebagai nyanyian dalang untuk menimbulkan suasana tertentu.

Dalam komunitas tarekat suluk diartikan sebagai perjalanan untuk membawa seseorang agar dekat dengan Tuhan sedangkan orang yang melakukan perjalanan tarekat dinamakan salik. Dalam tarekat pengertian suluk cenderung bersifat mistis dan aplikasi ritual tasawuf untuk mencapai

kehidupan rohani.

Linglung merupakan struktur bahasa Jawa yang artinya “bingung“. Bingung di sini diartikan ketidakpastian, atau dapat diartikan sebagai kumpulan dari cerita, aplikasi ritual tasawuf Sunan Kalijaga ketika ia mengalami kebingungan dalam mencapai hakekat kehidupan.

Suluk dalam Jawa adalah ajaran filsafat untuk mencari hubungan dan persatuan manusia dengan Tuhan, suluk merupakan salah satu bentuk ajaran yang termanifestasikan dalam sebuah kitab atau karya. Suluk Linglung Sunan Kalijaga merupakan salah satu dari sekian ajaran filasafat yang digubah oleh Iman Anom.

Suluk Linglung merupakan salah satu karya sastra Sunan Kalijaga yang sampai saat ini masih jarang ditemukan di literatur Jawa. Buku ini merupakan terjemahan dari kitab kuno warisan dari sepuh Kadilangu Demak, R.Ng. Noto Subroto kepada ibu R.A.Y Supratini Mursidi, yang keduanya adalah anak cucu Sunan Kalijaga yang ke-13 dan 14.

Kitab kuno yang diberi nama Suluk Linglung ini memuat tentang pengobatan dengan menggunakan berbagai ramuan tradisional, azimah yang berbentuk rajah huruf arab serta memakai isim, berbagai macam do’a. Disamping itu suluk merupakan sebuah goresan dalam bentuk bibliografi dari proses kehidupan batin seseorang atau tokoh.

Buku kuno ini menggunakan simbol-simbol prasastri penulisan ngrasa sirna sarira aji yang berarti bermakna 1806 caka bertepatan dengan tahun 1884 Masehi. Buku kuno ini ditulis di atas kertas yang dibuat dari serat kulit hewan yang merupakan transliterasi dari kitab Duryat yang diwariskan secara turun temurun oleh keluarga Sunan Kalijaga.

Kondisi Teks dan Kandungan Ajaran Suluk Linglung Sunan Kalijaga Tentang Makrifat.

Dalam kehidupan tasawuf, seorang yang ingin menyempurnakan dirinya harus melalui beberapa tahap-tahap dalam perjalanan spiritualnya. Dimana tahap paling dasar adalah syari’at, yaitu tahap pelatihan badan agar dicapai kedisiplinan dan kesegaran jasmani. Dalam syari’at hubungan antar manusia dijalin menjadi umat, syariat dimaksudkan untuk membawa  seseorang ke dalam sebuah bangunan kolektif, yang disebut umat, bangunan persaudaraan berdasarkan kepercayaan atau agama yang sama.

Begitu juga yang diajarkan dan dilaksanakan oleh Sunan Kalijaga di dalam kitab Suluk Linglung, ia sangat menekankan pentingnya menjalankan syari’at Islam seperti yang diajarkan oleh Rasulullah saw, termasuk sholat lima waktu, puasa ramadhan, membayar zakat dan menjalankan ibadah haji. Agar dapat menjalankan ajaran Islam yang sempurna dan sungguh-sungguh (kaffah), baginya harus melalui berbagai tirakat dan perenungan diri yang sungguh-sungguh pula. Dengan begitu manusia akan dapat mengerti makna hidup sejati dan mencapai makrifat yang diajarkan Sunan Kalijaga dalam suluk tersebut, adalah sebagai berikut;

Pertama, Brahmara Ngisep Sari Pupuh Dhandanggula (Kumbang Menghisap Madu). Dalam teks aslinya, “pawartane padhita linuwih, ingkang sampun saget sami pejah, pejah sajroning uripe, sanget kepenginipun, pawartane kang sampun urip, marma ngelampahi kesah, tan uningeng luput, anderpati tan katedah, warta ingkang kagem para nabi wali, mila wangsul kewala.”

Artinya: “menceritakan tentang seorang alim ulama’ yang cerdik dan pandai yang sudah bisa merasakan mati, mati dalam hidup yang mempunyai keinginan besar untuk memperoleh petunjuk dari seorang yang sudah menemukan hakekat kehidupan dan perjalanan untuk tidak memperdulikan dampak yang terjadi. Beliau bernafsu untuk mendapatkan petunjuk, petunjuk yang dipegang oleh para nabi dan wali, itulah tujuan yang diharapkan semata-mata“.

Pada bagian ini mengupas tentang Sunan Kalijaga berhasrat besar untuk mencari ilmu yang menjadi pegangan para Nabi dan wali. Dengan  kondisi bimbang dan tidak menentu Sunan Kalijaga selalu berusaha untuk mengabdi dan mencari petunjuk, salah satu usaha yang ditempuh adalah dengan mengendalikan segala hawa nafsunya yang selanjutnya berserah diri kepada Allah, yang diibaratkan sebagai kumbang ingin mengisap madu atau sari kembang.

Dalam hal ini Sunan Kalijaga berusaha untuk mengendalikan segala hawa nafsunya. Rendah hati dalam bersikap, prihatin, tidak bermewah-mewah (memikirkan kehidupan dunia), membunuh segala nafsu jiwa raga dan berserah diri pada Allah.

Maksud mengalirnya madu adalah orang yang diberi kemuliaan oleh suksma. Dia tetap kokoh dalam budi. Arti menjalankan tapa adalah menyakiti badan dari waktu muda sampai tua, masuk hutan yang sunyi, masuk gua bersemadi di tempat yang sepi, membunuh jiwa raga.

Dengan begitu bila mendapat hidayah Ilahi, maka pengetahuan tentang Allah akan sampai kepadanya, begitulah yang dilakukan Sunan Kalijaga. Manfaat orang yang suka prihatin, seluruh cita-citanya akan dikabulkan Allah, apabila belajar ilmu akan mudah paham, apabila mencari rizki akan mudah didapatkan dan apabila melakukan sesuatu pekerjaan akan cepat selesai.

Demikian tapanya para ulama dan wali Allah yang telah sempurna tekadnya. Bila orang ingin seperti itu hendaklah jiwa raga disiksa, raga selalu disakiti lupakan tidur. Bila ingin tahu tentang asal mulanya, jasadnya disiksa dengan maksud agar menyatu pada suksma.
Dalam teksnya dijelaskan:

“……Dennya amrih wekasing urip, dadya napsu ingobat kabanjur kalantur, eca dhahar lawan nendra, saking tyas awon poerang lan napsu neki,…….

Artinya: “………berbagai usaha ditempuh agar akhir hidupnya nanti, mampu mengatasi atau mengobati nafsunya, jangan sampai terlanjur nafsunya, puas makan dan tidur sebab hatinya kalah perang dengan nafsunya“.

Kedua, Kasmaran Branta Pupuh Asmara Dana (rindu kasih sayang pupuh asmara dana) pada bagian ini mengupas tentang Sunan Kalijaga berguru kepada Sunan Bonang, serta wejangan-wejangan (petunjuk-petunjuk) yang diterimanya.

Untuk memperkuat ketajaman batin, maka Sunan Kalijaga mengajarkan berbagai jenis tapa agar diikuti para murid-muridnya. Sunan Kalijaga sendiri pernah menjadi petapa ketika berguru kepada Sunan Bonang.

Pertama ia bertapa menunggui tongkat Sunan Bonang dan kedua bertapa ngidang menyamar menjadi kijang, makan daun-daunan dan tinggal di hutan belantara.

Dalam teksnya dijelaskan:

Pada bait ketiga ” wonten setengah wanadri, gennya ingkang gurdagurda. Pan sawarsa ing lamine, anulya kinene ngaluwat, pinendhen madyeng wana, setahun nulya dinudhuk, dateng jeng suhunan benang”

Artinya: “berada ditengah hutan belantara, tempat tumbuhnya pohon gurda yang banyak sekali, dengan tenggang waktu setahun lamanya, kemudian disuruh “ngaluwat” ditanam ditengah hutan. Setahun kemudian dibongkar oleh kanjeng Sunan Bonang.

Dan pada bait ketujuh belas, “pan angidang lampah neki, awor lan kidang manjangan, atenapi yen asare pan aturu tumut, lir kadya sutaning kidang.

Artinya: “untuk menjalankan laku kijang, berbaur dengan kijang menjangan, bilamana ingin tidur, ia mengikuti cara tidur terbalik, seperti tidurnya kijang, kalau pergi mencari makan seperti caranya anak kijang“.

Tapa-tapa yang dianjurkan Sunan Kalijaga diantaranya:

  1. Badan: tapanya berlaku sopan santun, zakatnya gemar berbuat kebajikan.
  2. Hati atau budi: tapanya rela dan sabar, zakatnya bersih dari prasangka buruk.
  3. Nafsu: tapanya berhati ikhlas, zakatnya tabah menjalani cobaan dalam sengsara dan mudah mengampuni kesalahan orang.
  4. Nyawa atau roh: tapanya belaku jujur, zakatnya tidak mengganggu orang lain dan tidak mencela.
  5. Rahsa: tapanya berlaku utama, zakatnya duka diam dan menyesali kesalahan atau bertaubat.
  6. Cahaya ata Nur: tapanya berlaku suci dan zakatnya berhati ikhlas.
  7. Atma atau hayu: tapanya berlaku awas dan zakatnya selalu ingat. Di samping itu diajarkan pula tapa dan perbuatan yang berhubungan dengan tujuh anggota badan;
  • Mata: tapanya mengurangi tidur, zakatnya tidak menginginkan kepunyaan orang lain.
  • Telinga: tapanya mencegah hawa nafsu, zakatnya tidak mendengarkan perkataan-perkataan yang buruk
  • Hidung: tapanya mengurangi minum, zakatnya tidak suka mencela keburukan orang lain
  • Lisan: tapanya mengurangi makan, zakatnya dengan menghindari perkataan-perkataan buruk
  • Aurat: tapanya menahan syahwat dan zakatnya menghindari perbuatan zina
  • Tangan: tapanya mencegah perbuatan mencuri, zakatnya tidak suka memkul orang lain
  • Kaki: tapanya tidak untuk berjalan berbuat kejahatan dan zakatnya menyukai berjalan untuk istirahat dan intropeksi.

Ketiga, Pupuh Durna, yang berisikan tentang Sunan Kalijaga yang diperintahkan ibadah haji ke Makkah dan bertemu dengan nabi Khidir di tengah samudera. Dalam teks tersebut disebutkan:

“Sang pendeta wus lajeng hing lampahira, mring benang dhepok sepi, nyata kawuwusa, Lampahe Syeh Melaya, kang arsa amunggah kaji, dhateng hing makkah, lampahnya murang margi”.

Artinya, ” Sunan Bonang sudah lebih dulu melangkahkan kaki, menuju desa Benang yang sepi. Dan selanjutnya kita ikuti, perjalanan Syeikh Malaya, yang berkehendak naik haji menuju Makkah dia menempuh jalan pintas

.

Setelah melalui proses tafakkur Sunan Bonang kemudian menyuruh Sunan Kalijaga untuk pergi ke makkah menunaikan ibadah haji yang kemudian diperintahkan untuk bertemu nabi Khidzir dan berguru kepadanya. Sunan Kalijaga bertemu Nabi Khidzir ditengah samudera yang kemudian nabi khidzir memberikan wejangan kepada Sunan Kalijaga tentang Hidayatullah (petunjuk Allah).

Hidayatullah dapat diartikan sebagai petunjuk Allah. Petunjuk merupakan sebuah anugerah yang tidak diterima oleh setiap orang. Sebagaimana dalam teks tersebut dijelaskan “nyuwun wikan kang sifat hidayatullah munggah kajiyo miring Makkah marga suci,” artinya bahwa untuk mencapai petunjuk dari Allah manusia harus dalam kondisi suci, suci secara dhahiriyah dan bathiniah dan dilakukan hati tulus dan ikhlas.

Sebagaimana Sunan Bonang menyarankan kepada Sunan Kalijaga untuk mencari kepandaian dan hidayatullah di Makkah. Makkah merupakan kota suci, kota sebagai kiblat bagi seluruh umat Islam yang mampu naik haji, sehingga dalam Islam pun diwajibkan bagi umat Islam yang mampu naik haji sebagai perwujudan pelaksanaan rukun Islam yang kelima.

Keempat, sang Nabi Khidzir (Pupuh Dhandhang Gula), mengupas tentang dialog antara Syeh Malaya dengan nabi Khidzir yang berisikan wejangan tentang hidayatullah dan kematian dengan berbagai aspeknya.Dalam teks aslinya:
“….nadyan wus haji iku yen tan weruh paraning kaji ,…margone tan kanggo lunga, mring ka’bah yen arsa wruh ing ka’bah jati, jati iman hidayat”.

Artinya, “…oleh karena itu, biarpun kamu sudah naik haji bila belum tahu tujuan yang sebenarnya dari ibadah haji, kamu akan rugi besar…ka’bah yang hendak kau kunjungi itu sebenarnya ka’batullah (ka’bah Allah)Demikian itu sesungguhnya iman hidayat yang harus kamu yakinkan dalam hati.”

Kalau seseorang akan melakukan ibadah haji, maka harus diketahui tujuan yang sebenarnya, kalau tidak, apa yang dilakukan itu sia-sia belaka, itulah yang dinamakan iman hidayat. Dan sebelum seseorang melakukan sesuatu hendaklah diteliti agar tidak tertipu oleh nafsu, supaya tetap dalam jati diri yang asli (pancamaya).

Penghalang tingkah laku kebaikan ada tiga golongan, dan siapa berhasil menjauhi penghalang tersebut akan berhasil menyatukan dirinya dengan yang ghaib. Yang dimaksud dengan penghalang tersebut adalah marah, sakit hati, angkara murka, sombong dan semacam itu.

Dalam teksnya dijelaskan, “pan isine jagad amepeki, iya iku kang telung prakara, pamurunge laku kabeh kang bisa pisah iku, yekti bisa amoring ghaib, iku mungsuhe tapa, ati kang tetelu, ireng, abang, kuningsamya, angadhangi cipta karsa kang lestari, pamore sulama mulya.

Artinya: “sebab isinya dunia ini sudah lengkap, yaitu terbagi ke dalam tiga golongan, semuanya adalah penghalang tingkah laku kalau mampu menjauhi itu, pasti dapat berkumpul dengan ghaib, itu yang menghalangi meningkatkan citra diri, hati yang tiga macam, hitam, merah, kuning, semua itu, menghalangi pikiran dan kehendak tiada putus-putusnya, akan menyatunya dengan Tuhan yang membuat nyawa lagi mulia.

Godaan yang berat digambarkan empat penari pada keempat sudut itu, yaitu nafsu-nafsu yang timbul dari badan kita sendiri, pertama, amarah, yaitu nafsu yang menimbulkan rasa ingin marah, ingin menguasai, ingin menaklukkan, serakah dan kejam, segala tindakannya selalu merugikan orang lain.

Dalam ilmu Jawa, pertama, nafsu amarah biasa digambarkan dengan sinar (cahaya) yang berwarna merah. Kedua, aluamah, nafsu yang menimbulkan keinginan untuk makan dan minum secara berlebihan. Orang yang menuruti nafsu aluamah gemar makan yang enak-enak, rakus, tak pernah merasa puas, dan malas bekerja. Nafsu aluamah digambarkan dengan sinar (cahaya) yang berwarna hitam.

Ketiga sufi’ah, nafsu yang menimbulkan sifat dengki dan iri hati. Orang dengan nafsu ini selalu menggerutu dan iri hati kepada temanya yang kaya dan pandai, tetapi ia sendiri tidak mau berusaha. Sifat sufiah digambarkan dengan sinar (cahaya) berwarna kuning.

Keempat, mutmainnah, nafsu yang pada dasarnya baik, suka memberi, penyayang. Orang yang menuruti hawa nafsu mutmainnah sangat menyayangi orang lain tanpa perhitungan. Hal ini dapat menjadikan dirinya celaka dan orang yang diberi juga ikut celaka. Sifat mutmainnah digambarkan dengan sinar (cahaya) putih.

Si penari (budi manusia) haruslah dapat mengekang dan menguasai empat nafsu itu, dan disalurkan ke arah (hal-hal) yang baik, agar dapat memiliki (mencapai) waranggana (cita-cita yang mulia) yang dikejarnya. Nafsu amarah disertai keberanian dan terpelihara, dapatlah ia mencapai martabat yang tinggi dan tidak akan berbuat kejam. Nafsu aluamah disertai rajin dan menjaga kesehatan dapatlah ia mencapai kecukupan hidupnya dan badan tetap terpelihara. Nafsu sufiah, disertai usaha maka ia sanggup mencapai apa yang diinginkan. Nafsu mutmainah, disertai perhitungan, akan mendatangkan ketenteraman hidup, tertolong sebagaimana mestinya.

Kelima, Kinanthi (Pupuh Kinanthi) yang terdiri dari enam puluh bait yang berisikan tentang ajaran nabi Khidzir kepada Sunan Kalijaga tentang ilmu yakin, ainul yakin, haqqul yakin, makrifatul yaqin dan iman hidayat serta sifat-sifat yang terpuji. Dalam teks aslinya: disebutkan:
urip jroning johar iku, urip mati sajroning, iya aneng johar awal, pagene sholat sireki, ya ora ing ndalem ndoya, purwane sholat puniki.

Artinya: “jelasnya, kehidupan yang telah digariskan sebelumnya oleh johar itu, telah memuat garis hidup dan mati kita. Segalanya telah ditentukan di dalam johar awal. Dari keterangan tentang johar awal tadi, tentu akan menimbulkan pertanyaan, diantaranya; mengapa kamu wajib sholat, di dalam dunia ini?“.

Pada bagian ini Sunan Kalijaga belajar tentang ilmu yaqin, ainul yaqin dan haqqul yaqin sertamakrifat, yang kemudian nabi Khidzir memberikan contoh tentang sholat sebagai bukti keyakinan manusia tentang adanya Tuhan atau Allah yang harus disembah.

Pada prinsipnya bahwa segala sesuatu yang ada di dunia ini ada yang menciptakan. Begitu pun juga manusia, eksistensi manusia di bumi karena adanya sang pencipta yaitu Allah. Adanya manusia itulah yang membuktikan adanya Allah, dan tanda-tanda adanya Allah adalah pada dirimu kata Nabi Khidzir kepada Sunan Kalijaga.

Sebenarnya tanda-tanda adanya Allah itu ada pada diri manusia sendiri, barang siapa yang mengetahui dirinya sendiri maka akan mengetahui Tuhannya, jadi dengan bertafakkur atas diri dan sifat-sifatnya sendiri, manusia mengetahui bahwa ia sebenarnya dijadikan dari setetes air yang tidak mempunyai akal sedikitpun dan, tidak pula mempunyai pendengaran, penglihatan, kaki, tangan, kepala dan sebagainya. Dari sinilah manusia akan mengetahui dengan terang dan nyata bawa tingkat kesempurnaan yang ia capai bukan ia sendiri yang membuatnya melainkan Allah lah yang menciptakan karena sehelai rambut manusia tidak akan sanggup membuatnya.

Manusia harus selalu bermakrifat kepada Allah, dalam ayat Al-Qur’an menjelaskan bahwa pengagungan kepada Allah diwujudkan dengan makrifat, kalau tidak makrifat berarti tidak menghargai Allah. Allah berfirman, “… dan tiada mereka mengagungkan Allah sebagaimana mestinya” (QS. Al-An-‘am: 91).

Yang dimaksud tidak mengagungkan Allah dalam ayat itu berarti tidak makrifat kepada-Nya. Makrifat merupakan sifat orang-orang yang mengenal Allah dengan nama-nama dan sifat-sifat-Nya. Kemudian membenarkan Allah dengan melaksanakan ajarannya dalam perbuatan.

Selain itu makrifat dapat membersihkan diri dari akhlak yang rendah dan dosa-dosa, yang kemudian lama-lama dapat mengetuk “pintu” Allah dengan hati yang istiqomah, dia melakukan makrifat untuk menjauhi dosa-dosa. Sehingga dia memperoleh hidayah dari Allah.Yang kesemuanya itu diperlukan adanya tauhid yang kuat. Dalam teksnya dijelaskan:
“…tauhid panembah reki, makrifat pangawruh kita, ya ru’yat minangka seksi” artinya tauhid adalah pengetahuan yang penting untuk menyembah pada Allah juga makrifat harus kita miliki untuk mengetahui kejelasan yang terlihat, ya rukyat (ya dengan melihat pakai mata telanjang) sebagai saksi adanya terlihat dengan nyata.

Keenam, Pupuh Dhandhang Gula yang terdiri dari lima puluh dua bait, pada bagian ini berisi tentang Sunan Kalijaga menerima wejangan dari nabi Khidzir Dalam teks aslinya disebutkan ” kawisayan kang marang ing pati, den kahasto pamanthenging cipta, rupa ingkang sabenere, sinengker buwaneku, urip data nana nguripi, datan antara mangsa, iya anaripun, pas wus ana ing sarira, tuhu tunggal sejane lawan sireki, tan kena pisahenna.

Artinya; “cobaan hidup yang menuju kematian. ditimbulkan akibat buah pikir, bentuk yang sebenarnya ialah tersimpan rapat di dalam jagatmu! Hidup tanpa ada yang menghidupi kecuali Allah saja. Tiada antara lamanya tentang adanya itu. Bukanlah sudah berada ditubuh? Sungguh bersama lainnya selalu ada dengan kau! Tak mungkin terpisahkan

Pada bagian ini Sunan Kalijaga mendapatkan wejangan tentang hakikat hidup, hidup yang penuh cobaan dan masalah semua itu harus  diserahkan sepenuhnya kepada Allah karena segala yang muncul di muka bumi karena Allah. Allah adalah sumber kebahagiaan, sumber kedamaian, sumber keselamatan, meskipun demikian, rasa di dalam batinlah yang bisa menangkap kebahagiaan itu. Hakikat rasa adalah tumbuhnya kemampuan untuk merasakan kehadiran Tuhan. Kemampuan untuk melihat wajah-Nya, kemampuan untuk menghadap dihadirat-Nya, sehingga sang jiwa menjadi madeg dan mantep dalam mengarungi kehidupan ini.

Manusia harus menghadap realita mutlak (kebenaran sejati) yang berada dalam diri manusia sendiri, sehingga di dalam Suluk Linglung dinamakan “tunggal lawan sang hyang widi”, hamba menyatu dengan Allah, baik di dunia maupun di akhirat. Hal ini disebut dalam Pupuh Kinanthi bait 53;

Thaukid hidayat sireku, tunggal lawan Sang Hyang widi, tunggal sira lawan Allah, uga donya uga akhir, ya rumangsana pangeran, ya Allah ana nireki.

Artinya: “Thaukid hidayat yang sudah ada padamu, menyatu dengan Tuhan yang terpilih. Menyatu dengan Tuhan Allah, baik di dunia maupun di akhirat. Dan kamu harus merasa bahwa Tuhan Allah itu ada dalam dirimu”.

Ajaran makrifat yang di ajarkan oleh Sunan Kalijaga tidak hanya melibatkan dunia dalammicrokosmos tetapi juga memandang dunia secara macrokosmos (misalnya alam semesta, kenyataan sosial, dll), agar manusia jangan sampai melupakan tujuan hidup manusia yang sesungguhnya baik di dunia dan di akhirat.

Bagi sufi mencapai makrifat, maka berarti dia makin dekat dengan Tuhan, dan akhirnya dapat bersatu dengan Tuhan. Tetapi, sebelum seorang sufi bersatu dengan Tuhan dia harus lebih dahulu menghancurkan dirinya.

Selama dia belum menghancurkan dirinya, yaitu dia masih sadar akan dirinya dia tidak akan dapat bersatu dengan Tuhan. Penghancuran diri ini dalam tasawuf disebut fana (hilang, hancur). Fana yang dicari oleh sufi ialah penghancuran diri, yaitu hancurnya peranan dan kesadaran tentang adanya tubuh kasar manusia ini.

Jika seseorang telah mencapai, yaitu kalau wujud jasmaninya tak ada lagi (dalam arti tak disadarinya lagi), maka yang tinggal ialah wujud rohaninya dan ketika itu dapatlah ia bersatu dengan Tuhan. Kelihatannya persatuan dengan Tuhan ini terjadi langsung setelah tercapainya fana’ tak ubahnya dengan fana’ tentang kejahilan, maksiat dan kelakuan buruk. Dengan hancurnya hal-hal buruk ini, maka yang tinggal ialah pengetahuan, takwa dan kelakuan baik. (Jentera Semesta/ Siami Nahri)

Sumber bacaan:

  1. Suluk Linglung, terjemahan dari kitab kuno warisan dari sepuh Kadilangu Demak, R.Ng. Noto Subroto kepada ibu R.A.Y Supratini Mursidi, yang keduanya adalah anak cucu Sunan Kalijaga yang ke-13 dan 14
  2. Rus’an , Mutiara Ihya’ Ulumuddin Iman Al-Ghozali, (Semarang: Wicaksana, 1984)
  3. Sudirman Tebba, Kecerdasan Sufistik; Jembatan Menuju Makrifat, (Jakarta: Kencana, 2004)
  4. http : // www. Serambi. Co. id / modules.
  5. Ahmad Chodjim, Mistik dan Makrifat Sunan Kalijaga, (Jakarta: PT Serambi IlmuSemesta, 2004)
  6.  Iman Anom, Suluk Linglung Sunan Kalijaga (Syeh Melaya), (Jakarta : Balai Pustaka,
  7. Purwadi dan Siti Maziyah, Hidup dan Spiritual Sunan Kalijaga, (Yogyakarta : Panji Pustaka 2005)
  8. Purwadi, Dakwah Sunan Kalijaga ” Penyebaran Agama Islam di Jawa berbasis kultural, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2004)
Iklan

Ki Ageng Suryomentaram

Posted on Updated on

Pencarian Ki Ageng Suryomentaram Nama Ki Ageng Suryomentaram memang tidak dikenal setenar Supriyadi atau Ki Hajar Dewantara, namun beliau memiliki sumbangsih yang besar terhadap perjuangan kebangsaan Indonesia. Disamping itu, ia juga mewariskan suatu ilmu yang disebut dengan Kawruh Jiwa. Siapa sebenarnya Ki Ageng Suryomentaram? Bagaimana lakunya untuk mendekat pada GUSTI ALLAH? Mari kita simak bersama-sama. Pada tahun 1892, tepatnya pada tanggal 20 Mei, seorang jabang bayi terlahir sebagai anak ke-55 dari Sri Sultan Hamengku Buwono VII, sultan yang bertahta di kraton Ngayogyakarta Hadiningrat. Jabang bayi tersebut diberi nama BRM (Bendara Raden Mas) Kudiarmadji. Ibundanya bernama BRA (Bendara Raden Ayu) Retnomandoyo, putri Patih Danurejo VI yang kemudian bernama Pangeran Cakraningrat. Demikianlah, BRM Kudiarmadji mengawali lelakon hidupnya di dalam kraton sebagai salah seorang anak Sri Sultan yang jumlah akhirnya mencapai 79 putera-puteri. Seperti saudaranya yang lain, Bendara Raden Mas Kudiarmadji belajar di Sekolah Srimanganti di dalam lingkungan kraton. Tingkat pendidikan sekolah ini kurang lebih sama dengan sekolah dasar sekarang. Selepas dari Srimanganti, dilanjutkan dengan kursus Klein Ambtenaar, belajar bahasa Belanda, Inggris, dan Arab. Setelah selesai kursus, bekerja di gubernuran selama 2 tahun lebih. BRM Kudiarmadji mempunyai kegemaran membaca dan belajar, terutama tentang sejarah, filsafat, ilmu jiwa, dan agama. Pendidikan agama Islam dan mengaji didapat dari K.H. Achmad Dahlan, pendiri Muhammadiyah. Ketika menginjak usia 18 tahun, Bendara Raden Mas Kudiarmadji diangkat menjadi pangeran dengan gelar Bendara Pangeran Harya Suryomentaram. Tahun demi tahun berlalu, sedikit demi sedikit Pangeran Suryomentaram mulai merasakan sesuatu yang kurang dalam hatiya. Setiap waktu ia hanya bertemu dengan yang disembah, yang diperintah, yang dimarahi, yang dimintai. Dia tidak puas karena merasa belum pernah bertemu orang. Yang ditemuinya hanya sembah, perintah, marah, minta, tetapi tidak pernah bertemu orang. Ia merasa masygul dan kecewa sekalipun ia adalah seorang pangeran yang kaya dan berkuasa.Image result for suryamataram kejawen

TAK BETAH DI KRATON Pada suatu ketika Pangeran Suryomentaram merasa menemukan jawaban bahwa yang menyebabkan ia tidak pernah bertemu orang, adalah karena hidupnya terkurung di lingkungan kraton. Hal itulah yang menyebabkan ia merasa tidak betah lagi tinggal dalam lingkungan kraton. Penderitaannya semakin mendalam dengan kejadian-kejadian sedih yang terjadi secara berturutan yaitu: * Patih Danurejo VI, kakek yang memanjakannya, diberhentikan dari jabatan patih dan tidak lama kemudian meninggal dunia. * Ibunya dicerai oleh Sri Sultan Hamengku Buwono VII dan dikeluarkan dari kraton, kemudian diserahkan kepada dirinya. * Istri yang dicintainya meninggal dunia dan meninggalkan putra yang baru berusia 40 hari. Rasa tidak puas dan tidak betah makin menjadi-jadi sampai pada puncaknya, ia mengajukan permohonan pada ayahanda, Sri Sultan Hamengku Buwono VII, untuk berhenti sebagai pangeran, tetapi permohonan tersebut tidak dikabulkan. Pada kesempatan lain ia juga mengajukan permohonan untuk naik haji ke Mekah, namun ini pun tidak dikabulkan. Karena sudah tidak tahan lagi, diam-diam ia meninggalkan kraton dan pergi ke Cilacap menjadi pedagang kain batik dan setagen (ikat pinggang). Di sana ia mengganti namanya menjadi Notodongso. DICARI SULTAN Berita perginya Pangeran Suryomentaram ini didengar Sri Sultan Hamengku Buwono VII, maka Sultan memerintahkan KRT Wiryodirjo (Bupati Kota) dan R.L. Mangkudigdoyo, untuk mencari Pangeran Suryomentaram dan memanggil kembali ke Yogyakarta. Setelah mencari-cari sekian lama, akhirnya ia ditemukan di Kroya (Banyumas) sedang memborong mengerjakan sumur. Pangeran Suryomentaram kembali ke Yogyakarta meskipun sudah terlanjur membeli tanah. Mulai lagi kehidupan membosankan dijalaninya. Setiap saat ia selalu mencari-cari penyebab kekecewaan batinnya.

Ketika ia mengira bahwa selain kedudukan sebagai pangeran, penyebab rasa kecewa dan tidak puas itu adalah harta benda, maka seluruh isi rumahnya dilelang. Mobil dijual dan hasil penjualannya diberikan kepada sopirnya, kuda dijual dan hasil penjualannya diberikan kepada gamelnya (perawat kuda), pakaian-pakaiannya dibagi-bagikan kepada para pembantunya. Upayanya itu ternyata tidak juga membuahkan jawaban atas kegelisahannya, ia tetap merasa tidak puas. Ia merindukan dapat bertemu orang. Hari-hari selanjutnya diisi dengan keluyuran, bertirakat ke tempat-tempat yang dianggap keramat seperti Luar Batang, Lawet, Guwa Langse, Guwa Cermin, Kadilangu dan lain-lain. Namun rasa tidak puas itu tidak hilang juga. Ia makin rajin mengerjakan shalat dan mengaji, tiap ada guru atau kiai yang terkenal pandai, didatangi untuk belajar ilmunya. Tetap saja rasa tidak puas itu menggerogoti batinnya. Kemudian dipelajarinya agama Kristen dan theosofi, ini pun tidak dapat menghilangkan rasa tidak puasnya. BEBAS Pada tahun 1921 ketika Pangeran Suryomentaram berusia 29 tahun, Sri Sultan Hamengku Buwono VII mangkat. Dia ikut mengantarkan jenazah ayahandanya ke makam Imogiri dengan mengenakan pakaian yang lain daripada yang lain. Para Pangeran mengenakan pakaian kebesaran kepangeranan, para abdi dalem mengenakan pakaian kebesarannya sesuai dengan pangkatnya, Pangeran Suryomentaram memikul jenazah sampai ke makam Imogiri sambil mengenakan pakaian kebesarannya sendiri yaitu ikat kepala corak Begelen, kain juga corak Begelen, jas tutup berwarna putih yang punggungnya ditambal dengan kain bekas berwarna biru sambil mengempit payung Cina. Dalam perjalanan pulang ia berhenti di Pos Barongan membeli nasi pecel yang dipincuk dengan daun pisang, dimakannya sambil duduk di lantai disertai minum segelas cao. Para pangeran, pembesar, maupun abdi dalem yang lewat tidak berani mendekat karena takut atau malu, mereka mengira Pangeran Suryomentaram telah menderita sakit jiwa. Namun ada pula yang menganggapnya seorang wali. Setelah Sri Sultan Hamengku Buwono VIII dinobatkan sebagai raja, Pangeran Suryomentaram sekali lagi mengajukan permohonan berhenti dari kedudukannya sebagai pangeran, dan kali ini dikabulkan. Pemerintah Hindia Belanda memberikan uang pensiun sebesar f 333,50 per bulan, tetapi ditolaknya dengan alasan ia tidak merasa berjasa kepada pemerintah Hindia Belanda dan tidak mau terikat pada pemerintah Hindia Belanda. Kemudian Sri Sultan Hamengku Buwono VIII memberikan uang f 75 per bulan hanya sebagai tanda masih keluarga kraton. Pemberian ini diterimanya dengan senang hati. Setelah berhenti dari kedudukannya sebagai pangeran ia merasa lebih bebas, tidak terikat lagi. Namun segera ia menyadari bahwa ia masih tetap merasa tidak puas, ia masih belum juga bertemu orang. Suryomentaram yang bukan pangeran lagi itu kemudian membeli sebidang tanah di desa Bringin, sebuah desa kecil di sebelah utara Salatiga. Di sana ia tinggal dan hidup sebagai petani. Sejak itu ia lebih dikenal dengan nama Ki Gede Suryomentaram atau Ki Gede Bringin. Banyak orang yang menganggap ia seorang dukun, dan banyak pula yang datang berdukun.

PENCERAHAN Setelah menduda lebih kurang 10 tahun, pada tahun 1925 Ki Ageng kawin lagi, kemudian beserta keluarga pindah ke Bringin. Rumahnya yang di Yogya digunakan untuk asrama dan sekolah Taman Siswa. Pada suatu malam di tahun 1927, Ki Ageng membangunkan isterinya, Nyi Ageng Suryomentaram, yang sedang lelap tidur, dan dengan serta merta ia berkata, “Bu, aku sudah ketemu yang kucari. Aku tidak bisa mati!” Sebelum Nyi Ageng sempat bertanya, Ki Ageng melanjutkan, ” Ternyata yang merasa belum pernah bertemu orang, yang merasa kecewa dan tidak puas selama ini, adalah orang juga, wujudnya adalah si Suryomentaram. Diperintah kecewa, dimarahi kecewa, disembah kecewa, dimintai berkah kecewa, dianggap dukun kecewa, dianggap sakit ingatan kecewa, jadi pangeran kecewa, menjadi pedagang kecewa, menjadi petani kecewa, itulah orang yang namanya Suryomentaram, tukang kecewa, tukang tidak puas, tukang tidak kerasan, tukang bingung. Sekarang sudah ketahuan.

Aku sudah dapat dan selalu bertemu orang, namanya adalah si Suryomentaram, lalu mau apa lagi? Sekarang tinggal diawasi dan dijajagi.” Sejak itu Ki Ageng kerjanya keluyuran, tetapi bukan untuk bertirakat seperti dulu, melainkan untuk menjajagi rasanya sendiri. Ia mendatangi teman-temannya untuk mengutarakan hasilnya bertemu orang – bertemu diri sendiri. Mereka pun kemudian juga merasa bertemu orang – bertemu diri sendiri masing-masing. Setiap kali bertemu orang (diri sendiri) timbul rasa senang. Rasa senang tersebut dinamakan “rasa bahagia”, bahagia yang bebas tidak tergantung pada tempat, waktu, dan keadaan. Pada tahun 1928 semua hasil “mengawasi dan menjajagi rasa diri sendiri” itu ditulis dalam bentuk tembang (puisi), kemudian dijadikan buku dengan judul “Uran-uran Beja”. Kisah-kisah tentang laku Ki Ageng yang menjajagi rasa diri sendiri tersebut ada banyak sekali, di antaranya sebagai berikut. Suatu hari Ki Ageng akan pergi ke Parang Tritis yang terletak di pantai selatan Yogyakarta. Sesampainya di Kali Opak perjalanannya terhalang banjir besar. Para tukang perahu sudah memperingatkan Ki Ageng agar tidak menyeberang, tetapi karena merasa pandai berenang, Ki Ageng nekad menceburkan diri ke dalam sungai. Akhirnya ia megap-megap hampir tenggelam dan kemudian ditolong oleh para tukang perahu. Setelah pulang ia berkata kepada Ki Prawirowiworo sebagai berikut, “Aku mendapat pengalaman. Pada waktu aku akan terjun ke dalam sungai, tidak ada rasa takut sama sekali. Sampai gelagapan pun rasa takut itu tetap tidak ada. Bahkan aku dapat melihat si Suryomentaram yang megap-megap hampir tenggelam.” Ki Prawirowiworo menjawab, “Tidak takut apa-apa itu memang benar, sebab Ki Ageng adalah orang yang putus asa. Orang yang putus asa itu biasanya nekad ingin mati saja.” Ki Ageng menjawab, “Kau benar. Rupanya si Suryomentaram yang putus asa karena ditinggal mati kakek yang menyayanginya, dan istri yang dicintainya, nekad ingin bunuh diri. Tetapi pada pengalaman ini ada yang baik sekali, pada waktu kejadian tenggelam megap-megap, ada rasa yang tidak ikut megap-megap, tetapi malah dapat melihat si Suryomentaram yang megap-megap gelagapan itu.” Setelah penyerahan kedaulatan, Ki Ageng mulai lagi mengadakan ceramah-ceramah Kawruh Beja (Kawruh Jiwa) ke mana-mana, ikut aktif mengisi kemerdekaan dengan pembangunan jiwa berupa ceramah-ceramah pembangunan jiwa warga negara. Pada tahun 1957 pernah diundang oleh Bung Karno ke Istana Merdeka untuk dimintai wawasan tentang berbagai macam masalah negara. Ki Ageng tetap mengenakan pakaian yang biasa dipakainya sehari-hari. Kurang lebih 40 tahun Ki Ageng menyelidiki alam kejiwaan dengan menggunakan dirinya sebagai kelinci percobaan. Pada suatu hari ketika sedang mengadakan ceramah di desa Sajen, di daerah Salatiga, Ki Ageng jatuh sakit dan dibawa pulang ke Yogya, dirawat di rumah sakit. Sewaktu di rumah sakit itu, Ki Ageng masih sempat menemukan kawruh yaitu bahwa “puncak belajar kawruh jiwa ialah mengetahui gagasannya sendiri”. Ki Ageng dirawat di rumah sakit selama beberapa waktu, namun karena sakitnya tidak kunjung berkurang, kemudian ia dibawa pulang ke rumah. Sakitnya makin lama makin parah, dan pada hari Minggu Pon tanggal 18 Maret 1962 jam 16.45, dalam usia 70 tahun, Ki Ageng tutup usia di rumahnya di Jln. Rotowijayan no. 22 Yogyakarta dan dimakamkan di makam keluarga di desa Kanggotan, sebelah selatan kota Yogyakarta. Ki Ageng Suryomentaram meninggalkan seorang istri, dua orang putra, dan empat orang putri.

Ki Ageng Suryomentaram juga meninggalkan warisan yang sangat berharga yaitu KAWRUH PANGAWIKAN PRIBADI atau yang sekarang lebih dikenal dengan sebutan KAWRUH JIWA. Untuk pembahasan tentang ajaran dari Ki Ageng Suryomentaram akan dibahas pada pokok bahasan selanjutnya. Diposkan oleh kejawen di 16.03

Cheap Offers: http://bit.ly/gadgets_cheap

MACAPAT

Posted on Updated on

Kumpulan Tembang Macapat Lengkap dengan Penjelasan Serta Contohnya

Tembang macapat merupakan salah satu tembang atau lagu daerah yang paling populer di Jawa.

Tembang macapat merupakan tembang atau puisi tradisional Jawa yang menceritakan tahap-tahap kehidupan manusia. Filosofinya menggambarkan tentang seorang manusia dari lahir, mulai belajar di masa kanak-kanak, saat dewasa, hingga akhirnya meninggal dunia.

Tembang macapat sendiri mempunyai sebutan tembang cilik (kecil). Tembang macapat yang berarti lagu ini mempunyai karakteristik yang berbeda dari setiap jenisnya. Ciri-ciri tersebut diantaranya dari Guru Gatra, Guru Lagu, dan Guru Bilangan (wilangan).

Sejarah Tembang Macapat

Macapat diperkirakan muncul pada akhir masa Majapahit dan dimulainya pengaruh dari Walisanga. Bisa dikatakan ini untuk situasi di Jawa tengah, sebab di Jawa timur dan Bali macapat sudah dikenal sebelumnya, bahkan sebelum datangnya islam.

Sebagai contohnya yaitu sebuah teks dari Bali atau Jawa timur yang dikenal dengan judul Kidung Ranggalawe disebutkan telah selesai ditulis pada tahun 1334 Masehi. Di sisi lain tarikh ini disangsikan karena karya tersebut hanya dikenal versinya yang lebih mutakhir dan sari semua naskahnya yang memuat teks yang berasal dari Bali.

Mengenai usia macapat, terdapat dua pendapat yang berbeda terutama yang ada hubungannya dengan Kakawin atau puisi tradisional Jawa Kuna, mana yang lebih tua.  Prijohoetomo berpendapat bahwa macapat adalah turunan Kakawin dengan tembang Gedhe (besar) sebagai perantara.

Pendapat tersebut disangkal oleh Poerbatjaraka dan Zoetmulder. Menurut keduanya macapat ini sebagai metrum puisi asli Jawa yang lebih tua usianya daripada Kakawin. Karena itu macapat baru muncul setelah pengaruh India semakin memudar.

Pengertian Guru Gatra, Guru Lagu, Dan Guru Bilangan.

•    Guru Gatra merupakan banyaknya jumlah larik (baris) dalam satu bait.

•    Guru Lagu merupakan persamaan bunyi sajak di akhir kata dalam setiap larik (baris).

•    Guru Wilangan merupakan banyaknya jumlah wanda (suku kata) dalam setiap larik (baris).

Untuk mempermudah membedakan guru gatra, guru lagu, dan guru wilangan dari tembang-tembang macapat tadi, maka bisa dibuat tabel seperti berikut :

Guru gatra tembang macapat

Dengan adanya aturan berupa Guru Gatra, Guru Lagu, dan Guru Bilangan maka tembang macapat dibedakan menjadi 11 jenis tembang.

Baca juga Kumpulan Berbagai Geguritan Lengkap Disertai dengan Penjelasannya

***

Jenis Tembang Macapat Beserta Penjelasannya Serta Dilengkapi Dengan Guru Gatra, Guru Lagu, Dan Guru Bilangan

1.    Tembang Pocung (Pucung)

Tembang macapat tembang pocung

Kata pocung (pucung) berasal dari kata ‘pocong’ yang menggambarkan ketika seseorang sudah meninggal yang dikafani atau dipocong sebelum dikuburkan. Filosofi dari tembang pocung menunjukkan tentang sebuah ritual saat melepaskan kepergian seseorang.

Dari segi pandang lain ada yang menafsirkan pucung merupakan biji kepayang (pengium edule). Di dalam  Serat Purwaukara, pucung memiliki arti kudhuping gegodhongan (kuncup dedaunan) yang biasanya tampak segar.

Ucapan cung dalam kata pucung cenderung mengarah pada hal-hal yang lucu sifatnya, yang dapat menimbulkan kesegaran, misalnya kucung dan kacung. Biasanya tembang pucung digunakan untuk menceritakan lelucon dan berbagai nasehat. Pucung menceritakan tentang kebebasan dan tindakan sesuka hati, sehingga pucung berwatak atau biasa digunakan dalam suasana santai.

Contoh Tembang Pocung (12u – 6a – 8i – 12a)

Ngelmu iku kelakone kanthi laku
Lekase lawan kas
Tegese kas nyantosani
Setya budya pengekesing dur angkara

 

Berikut penjelasan mengenai aturan guru gatra, guru lagu dan guru wilangan dari tembang pucung.

1. Guru gatra = 4

Artinya tembang Pocung ini memiliki 4 larik kalimat.

2. Guru wilangan = 12, 6, 8, 12

Maksudnya setiap kalimat harus mempunyai suku kata seperti di atas. Kalimat pertama berjumlah 12 suku kata. Kalimat kedua berjumlah 6 suku kata. Kalimat ketiga berjumlah 8 suku kata. Kalimat keempat berjumlah 12 suku kata.

3. Guru lagu = u, a, i, a

Maksudnya adalah akhir suku kata dari setiap kalimatnya harus bervokal u, a, i, a.
Berikut ini adalah contoh tembang pucung.

Ngelmu iku kelakone kanthi laku -> u
Lekase lawan kas -> a
Tegese kas nyantosani -> i
Setya budya pengekesing dur angkara -> a

Baca juga kumpulan Tembang Macapat Pocung

2.   Tembang Maskumambang

Tembang Macapat Maskumambang

Tembang Maskumambang menceritakan sebuah filosofi hidup manusia dari mulainya manusia diciptakan. Sosok manusia yang masih berupa embrio di dalam kandungan, yang masih belum diketahui jati dirinya, serta belum diketahui apakah dia laki-laki atau perempuan.

Dari segi pandangan lain Maskumambang berasal dari kata ‘mas’ dan ‘kumambang’. Asal kata ‘mas’ berasal dari kata Premas yang berarti Punggawa dalam upacara Shaministis.

Kata ‘kumambang’ berasal dari kata kambang dengan sisipan -um. Kambang sendiri asalnya dari kata ambang yang berarti terapung. Kambang juga berarti Kamwang yang berarti kembang.

Ambang berkaitannya dengan Ambangse yang berarti menembang. Dengan demikian Maskumambang dapat diartikan punggawa yang melakukan upacara Shamanistis, mengucap mantra atau lafal dengan menembang disertai sajian bunga.

Di dalam Serat Purwaukara, Maskumambang berarti Ulam Toya yang berati ikan air tawar, sehingga terkadang diisyaratkan dengan lukisan atau ikan berenang.

Watak Maskumambang yaitu meiliki gambaran perasaan sedih atau kedukaan, dan juga suasana hati yang sedang dalam keadaan nelangsa.

Contoh Tembang Maskumambang ( 12i – 6a – 8i – 8o )

Wong tan manut pitutur wong tuwa ugi
Ha nemu duraka
Ing donya tumekeng akhir
Tan wurung kasurang-surang

Tembang Maskumambang di atas menceritakan tentang hidup seseorang yang tidak mematuhi nasehat orang tua, maka dia akan hidup sengsara dan menderita di dunia dan akhirat.

 

Berikut penjelasan mengenai aturan guru gatra, guru lagu dan guru wilangan dari tembang maskumambang.

1. Guru gatra = 4

Artinya tembang maskumambang ini memiliki 4 larik atau baris kalimat.

2. Guru wilangan = 12, 6, 8, 8

Kalimat pertama berjumlah 12 suku kata. Kalimat kedua berjumlah 6 suku kata. Kalimat ketiga berjumlah 8 suku kata. Kalimat keempat berjumlah 8 suku kata.

3. Guru lagu = i, a, i, o

Akhir suku kata dari setiap kalimatnya harus bervokal i, a, i, o.

Baca juga Berbagai Peribahasa Jawa Lengkap dengan Artinya

3.    Tembang Megatruh

Tembang macapat tembang megatruh

Kata Megatruh berasal dari kata ‘megat’ dan ‘roh’, artinya putusnya roh atau telah terlepasnya roh dari tubuh. Filosofi yang terkandung di Megatruh adalah tentang perjalanan kehidupan manusia yang telah selesai di dunia.

Dari segi pandang lain Megatruh berasal dari awalan -am, pegat dan ruh. Dalam serat Purwaukara, Megatruh memiliki arti mbucal kan sarwa ala (membuang apa-apa yang sifatnya jelek).

Kata pegat ada hubungannya dengan peget yang berarti istana, tempat tinggal. Pameget atau pemegat berarti jabatan. Samgat atau samget berarti jabatan ahli atau guru agama. Dapat disimpulkan Megatruh mempunyai arti petugas yang ahli dalam kerohanian yang selalu menghindari perbuatan jahat.

Watak tembang Megatruh yaitu tentang kesedihan dan kedukaan. Biasanya menceritakan mengenai kehilangan harapan dan rasa putus asa.

Contoh Tembang Megatruh (12u – 8i – 8u – 8i – 8o)

Kabeh iku mung manungsa kang pinujul
Marga duwe lahir batin
Jroning urip iku mau
Isi ati klawan budi
Iku pirantine ewong

 

Berikut penjelasan mengenai aturan guru gatra, guru lagu dan guru wilangan dari tembang Megatruh .

1. Guru gatra = 5

Tembang Megatruh ini memiliki 5 larik atau baris kalimat.

2. Guru wilangan = 12, 8, 8, 8, 8

Kalimat pertama berjumlah 12 suku kata. Kalimat kedua berjumlah 8 suku kata. Kalimat ketiga berjumlah 8 suku kata. Kalimat keempat berjumlah 8 suku kata. Kalimat ke lima berjumlah 8 suku kata.

3. Guru lagu = u, i, u, i, o

Akhir suku kata dari setiap kalimatnya harus bervokal u, i, u, i, o.

4.    Tembang Gambuh

Contoh Tembang Macapat Gambuh dan Artinya

Kata Gambuh memiliki arti menyambungkan. Filosofi tembang Gambuh ini menceritakan mengenai perjalanan hidup dari seseorang yang telah bertemu  dengan pasangan hidupnya yang cocok. Keduanya dipertemukan untuk menjalin ikatan yang lebih sakral yaitu dengan pernikahan. Sehingga keduanya akan memiliki kehidupan yang langgeng.

Dari segi pandang lain Gambuh berarti roggeng tahu, terbiasa, dan nama tumbuhan. Berkaitan dengan hal ini, tembang Gambuh memiliki watak atau biasa digunakan dalam suasana yang sudah pasti atau tidak ragu-ragu, maknanya kesiapan pergerakan maju menuju medan yang sebenarnya.

Watak Gambuh juga menggambarkan tentang keramahtamahan dan tentang persahabatan. Tembang Gambuh biasanya juga digunakan untuk menyampaikan cerita-cerita kehidupan.

Contoh Tembang Gambuh (7u – 10u – 12i – 8u – 8o)

Lan sembah sungkem ipun
Mring Hyang Sukma elinga sireku
Apan titah sadaya amung sadermi
Tan welangsira andhaku
Kabeh kagungan Hyang Manon

 

Berikut penjelasan mengenai aturan guru gatra, guru lagu dan guru wilangan dari tembang Gambuh .

1. Guru gatra = 5

Tembang Gambuh memiliki 5 larik atau baris kalimat.

2. Guru wilangan = 7, 10, 12, 8, 8

Kalimat pertama berjumlah 7 suku kata. Kalimat ke dua berjumlah 10 suku kata. Kalimat ke tiga berjumlah 12 suku kata. Kalimat ke empat berjumlah 8 suku kata. Kalimat ke lima berjumlaj 8 suku kata.

3. Guru lagu = u, u, i, u, o

Akhir suku kata dari setiap kalimatnya harus bervokal u, u, i, u, o.

Baca juga kumpulan Tembang Macapat Gambuh

5.    Tembang Mijil

Tembang macapat tembang mijil

Tembang Mijil memiliki filosofi yang melambangkan bentuk sebuah biji atau benih yang lahir di dunia. Mijil menjadi lambang dari awal mula dari perjalanan seorang anak manusia di dunia fana ini, dia begitu suci dan lemah  sehingga masih membutuhkan perlindungan.

Dari segi pandang lain Mijil berarti keluar. Selain itu berhubungan juga dengan wijil yang mempunyai arti sama dengan lawang atau pintu. Lawang juga berarti nama sejenis tumbuh-tumbuhan yang wangi bunganya.

Watak tembang Mijil yaitu menggambarkan keterbukaan yang pas untuk mengeluarkan nasehat, cerita-cerita dan juga asmara.

Contoh Tembang Mijil (10i – 6o – 10e – 10i – 6i – 6o)

Dedalanne guna lawan sekti
Kudu andhap asor
Wani ngalah dhuwur wekasane
Tumungkula yen dipundukanni
Ruruh sarwa wasis
Samubarangipun

Tembang Mijil di atas menceritakan  mengenai bagaimana menjadi sosok orang yang baik, rendah hati, dan juga ramah.

 

Berikut penjelasan mengenai aturan guru gatra, guru lagu dan guru wilangan dari tembang Mijil .

1. Guru gatra = 6

Tembang Mijil memiliki 6 larik atau baris kalimat.

2. Guru wilangan = 10, 6, 10, 10, 6, 6

Kalimat pertama berjumlah 10 suku kata. Kalimat ke dua berjumlah 6 suku kata. Kalimat ke tiga berjumlah 10 suku kata. Kalimat ke empat berjumlah 10 suku kata. Kalimat ke lima berjumlaj 6 suku kata. Kalimat ke enam 6 suku kata.

3. Guru lagu = i, o, e, i, i, o

Akhir suku kata dari setiap kalimatnya harus bervokal i, o, e, i, i, o.

Baca juga Kumpulan Cerkak Bahasa Jawa Berbagai Tema

6.    Tembang Kinanthi

Tembang macapat tembang kinanthi

Kinanthi berasal dari kata ‘kanthi’ yang berarti menggandeng atau menuntun. Tembang Kinanthi memiliki filosofi hidup yang mengisahkan kehidupan seorang anak yang masih membutuhkan tuntunan agar bisa berjalan dengan baik di dunia ini.

Seorang anak tidak hanya membutuhkan tuntutan untuk belajar berjalan, tetapi tuntunan secara penuh. Tuntunan itu meliputi tuntunan dalam berbagai norma dan adat yang berlaku agar dapat dipatuhi dan dijalankan pada kehidupan dengan baik.

Watak tembang Kinathi yaitu menggambarkan perasaan senang, teladan yang baik, nasehat serta kasih sayang. Tembang Kinanthi digunakan untuk menyampaikan suatu cerita atau kisah yang berisi nasehat yang baik serta tentang kasih sayang.

Contoh Tembang Kinanthi (8u – 8i – 8a – 8i – 8a – 8i)

Kukusing dupa kumelun
Ngeningken tyas kang apekik
Kawengku sagung jajahan
Nanging saget angikipi
Sang resi kaneka putra
Kang anjog saking wiyati

 

Berikut penjelasan mengenai aturan guru gatra, guru lagu dan guru wilangan dari tembang Kinanthi .

1. Guru gatra = 6

Tembang Kinanthi memiliki 6 larik atau baris kalimat.

2. Guru wilangan = 8, 8, 8, 8, 8, 8,

Kalimat pertama berjumlah 8 suku kata. Kalimat ke dua berjumlah 8 suku kata. Kalimat ke tiga berjumlah 8 suku kata. Kalimat ke empat berjumlah 8 suku kata. Kalimat ke lima berjumlaj 8 suku kata. Kalimat ke enam 8 suku kata.

3. Guru lagu = u, i, a, i, a, i

Akhir suku kata dari setiap kalimatnya harus bervokal u, i, a, i, a, i

7.    Tembang Asmarandana

Tembang macapat tembang asmarandana

Tembang Asmarandana berasal dari kata ‘asmara’ yang berarti cinta kasih. Filosofi tembang Asmarandana adalah mengenai perjalanan hidup manusia yang sudah waktunya untuk memadu cinta kasih dengan pasangan hidup.

Dari segi pandang lain Asmaradana berasal dari kata asmara dan dhana. Asmara merupakan nama dewa percintaan. Dhana berasal dari kata dahana yang berarti api.

Asmaradana berkaitan dengan kajidian hangusnya dewa Asmara yang disebabkan oleh sorot mata ketiga dewa Siwa seperti yang dituliskan dalam Kakawin Smaradhana karya Mpu Darmaja. Dalam Serat Purwaukara Smaradhana diberi arti remen ing paweweh, berarti suka memberi.

Watak Asmarandana yaitu menggambarkan cinta kasih, asmara dan juga rasa pilu atau rasa sedih.

Contoh Tembang Asmarandana (8i – 8a – 8e – 7a – 8a – 8u – 8a)

Lumrah tumrap wong ngaurip
Dumunung sadhengah papan
Tan ngrasa cukup butuhe
Ngenteni rejeki tiba
Lamun tanpa makarya
Sengara bisa kepthuk
Kang mangkono bundhelana

 

Berikut penjelasan mengenai aturan guru gatra, guru lagu dan guru wilangan dari tembang Asmarandana .

1. Guru gatra = 7

Tembang Asmarandana memiliki 7 larik atau baris kalimat.

2. Guru wilangan = 8, 8, 8, 7, 8, 8, 8

Kalimat pertama berjumlah 8 suku kata. Kalimat ke dua berjumlah 8 suku kata. Kalimat ke tiga berjumlah 8 suku kata. Kalimat ke empat berjumlah 7 suku kata. Kalimat ke lima berjumlaj 8 suku kata. Kalimat ke enam berjumlah 8 suku kata, Kalimat ke tujuh berjumlah 8 suku kata.

3. Guru lagu = i, a, e, a, a, u, a

Akhir suku kata dari setiap kalimatnya harus bervokal i, a, e, a, a, u, a.

8.    Tembang Durma

Tembang macapat tembang durma

Durma memiliki arti pemberian. Tembang Durma mengandung filosofi tentang kehidupan yang suatu saat dapat mengalami duka, selisih dan juga kekurangan akan sesuatu.

Tembang Durma mengajarkan agar dalam hidup ini manusia dapat saling memberi dan melengkapi satu sama lain sehingga kehidupan bisa seimbang. Saling tolong menolong kepada siapa saja dengan hati yang ikhlas adalah nilai kehidupan yang harus selalu dijaga.

Dari segi lain Durma berasal dari kata Jawa klasik yang memiliki arti harimau. Dengan begitu Durma memiliki watak atau biasa digunakan dalam suasana seram. Dapat dikatakan tembang Durma seperti lagu yang digunakan di saat akan maju perang.

Dapat disimpulkan tembang Durma juga memilki watak yang tegas, keras dan penuh dengan amarah yang bergejolak.

Contoh Tembang Durma (12a – 7i – 6a – 7a – 8i – 5a – 7i)

Ayo kanca gugur gunung bebarengan
Aja ana kang mangkir
Amrih kasembadan
Tujuan pembangunan
Pager apik dalan resik
Latar gumelar
Wisma asri kaeksi

 

Berikut penjelasan mengenai aturan guru gatra, guru lagu dan guru wilangan dari tembang Durma .

1. Guru gatra = 7

Tembang Durma memiliki 7 larik atau baris kalimat.

2. Guru wilangan = 12, 7, 6, 7, 8, 5, 7

Kalimat pertama berjumlah 12 suku kata. Kalimat ke dua berjumlah 7 suku kata. Kalimat ke tiga berjumlah 6 suku kata. Kalimat ke empat berjumlah 7 suku kata. Kalimat ke lima berjumlaj 8 suku kata. Kalimat ke enam berjumlah 5 suku kata. Kalimat ke tujuh berjumlah 7 suku kata.

3. Guru lagu = a, i, a, a, i, a, i

Akhir suku kata dari setiap kalimatnya harus bervokal a, i, a, a, i, a, i.

9.    Tembang Pangkur

Tembang macapat tembang pangkur

Pangkur berasal dari kata ‘mungkur’ yang memiliki arti pergi atau meninggalkan. Tembang Pangkur memiliki filosofi yang menggambarkan kehidupan yang seharusnya dapat menjauhi berbagai hawa nafsu dan angkara murka.

Di saat mendapati sesuatu yang buruk hendaknya pergi menjauhi dan meninggalkan yang buruk tersebut. Tembang Pangkur menceritakan tentang seseorang yang sudah siap untuk meninggalkan segala sesuatu yang bersifat keduniawian dan mencoba mendekatkan diri kepada Tuhan.

Dari segi pandang lain, Pangkur berasal dari kata punggawa dalam kalangan kependetaan seperti tercantum di dalam piagam-piagam bahasa Jawa kuno.

Dalam Serat Purwaukara, Pangkur memiliki arti buntut atau ekor. Karena itu Pangkur terkadang diberi sasmita atau isyarat tut pungkur yang berarti mengekor, tut wuri dan tut wuntat yang berarti mengikuti.

Watak tembang Pangkur menggambarkan karakter yang gagah, kuat, perkasa dan hati yang besar. Tembang Pangkur cocok digunakan untuk mengisahkan kisah kepahlawanan, perjuangan serta peperangan.

Contoh Tembang Pangkur (8a – 11i – 8u – 7a – 8i – 5a – 7i)

Muwah ing sabarang karya
Ingprakara gedhe kalawan cilik
Papat iku datan kantun
Kanggo sadina-dina
Lan ing wengi nagara miwah ing dhusun
Kabeh kang padha ambegan
Papat iku nora lali

 

Berikut penjelasan mengenai aturan guru gatra, guru lagu dan guru wilangan dari tembang Pangkur .

1. Guru gatra = 7

Tembang Pangkur memiliki 7 larik atau baris kalimat.

2. Guru wilangan = 8, 11, 8, 7, 8, 5, 7

Kalimat pertama berjumlah 8 suku kata. Kalimat ke dua berjumlah 11 suku kata. Kalimat ke tiga berjumlah 8 suku kata. Kalimat ke empat berjumlah 7 suku kata. Kalimat ke lima berjumlaj 8 suku kata. Kalimat ke enam berjumlah 5 suku kata. Kalimat ke tujuh berjumlah 7 suku kata.

3. Guru lagu = a, i, u, a, i, a, i

Akhir suku kata dari setiap kalimatnya harus bervokal a, i, u, a, i, a, i.

Baca juga kumpulan Tembang Macapat Pangkur

10.    Tembang Sinom

tembang macapat tembang sinom

Kata Sinom memiliki arti pucuk yang baru tumbuh dan bersemi. Filosofi tembang Sinom menggambarkan seorang manusia yang mulai beranjak dewasa dan telah menjadi pemuda atau remaja yang mulai tumbuh.

Di saat menjadi remaja, tugas mereka adalah menuntut ilmu sebaik mungkin dan setinggi-tingginya agar bisa menjadi bekal kehidupan yang lebih baik kelak.

Dari segi pandang lain Sinom ada hubungannya dengan kata sinoman, yang memiliki arti perkumpulan para pemuda untuk membantu orang yang sedang punya hajat.

Ada juga yang berpendapat lain yang menyatakan bahwa sinom berkaitan dengan upacara bagi anak-anak muda zaman dulu. Bahkan sinom juga dapat merujuk pada daun pepohonan yang masih muda (kuncup), sehingga terkadang diberi isyarat dengan menggunakan lukisan daun muda. Di dalam Serat Purwaukara, Sinom berarti seskaring rambut yang memiliki arti anak rambut.

Contoh Tembang Sinom (8a – 8i – 8a – 8i – 7i – 8u – 7a – 8i – 12a)

Punika serat kawula
Katura sira wong kuning
Sapisan salam pandonga
Kapindo takon pawarti
Jare sirarsa laki
Ingsun mung sewu jumurung
Amung ta wekasi wang
Gelang alit mungging driji
Lamun sida aja lali kalih kula

 

Berikut penjelasan mengenai aturan guru gatra, guru lagu dan guru wilangan dari tembang Sinom .

1. Guru gatra = 9

Tembang Sinom memiliki 9 larik atau baris kalimat.

2. Guru wilangan = 8, 8, 8, 8, 7, 8, 7, 8, 12

Kalimat pertama berjumlah 8 suku kata. Kalimat ke dua berjumlah 8 suku kata. Kalimat ke tiga berjumlah 8 suku kata. Kalimat ke empat berjumlah 8 suku kata. Kalimat ke lima berjumlaj 7 suku kata. Kalimat ke enam berjumlah 8 suku kata. Kalimat ke tujuh berjumlah 7 suku kata. Kalimat ke delapan berjumlah 8 suku kata. Kalimat ke sembilan berjumlah 12 suku kata.

3. Guru lagu = a, i, a, i, i, u, a, i, a

Akhir suku kata dari setiap kalimatnya harus bervokal a, i, a, i, i, u, a, i, a.

11.   Tembang Dhandhanggula

Tembnag macapat tembang dhandhanggula

Kata Dhandhanggula berasal dari kata ‘dandang’ dan ‘gula’ yang berarti sesuatu yang manis. Filosofi tembang Dhandhanggula menggambarkan tentang kehidupan pasangan baru yang sedang berbahagia karena telah berhasil mendapatkan apa yang dicita-citakan.

Kehidupan manis merupakan suatu yang dirasakan bersama keluraga yang terasa begitu membahagiakan.
Dari segi pandang lain Dhandhanggula diambil dari nama raja Kediri yaitu Prabu Dhandhanggendis yang terkenal setelah Prabu Jayabaya. Dalam Serat Purwaukara, Dhandhanggula berarti ngajeng-ajeng kasaean yang memiliki arti menanti-nantikan kebaikan.

Watak tembang Dhandhanggula yaitu menggambarkan  sifat yang lebih universal atau luwes dan merasuk ke dalam hati. Tembang Dhandhanggula dapat digunakan untuk menuturkan kisah dalam berbagai hal dan kondisi apa pun.

Contoh tembang dhandanggula (10i – 10a – 8e – 7u – 9i – 7a – 6u – 8a – 12i – 7a)

Sinengkuyung sagunging prawali
Janma tuhu sekti mandra guna
Wali sanga nggih arane
Dhihin Syeh Magrib tuhu
Sunan ngampel kang kaping kalih
Tri sunan bonang ika
Sunan giri catur
Syarifudin sunan drajat
Anglenggahi urutan gangsal sayekti
Iku ta warnanira

 

Berikut penjelasan mengenai aturan guru gatra, guru lagu dan guru wilangan dari tembang Dhandhanggula .

1. Guru gatra = 10

Tembang Dhandhanggula memiliki 10 larik atau baris kalimat.

2. Guru wilangan = 10, 10, 8, 7, 9, 7, 6, 8, 12, 7

Kalimat pertama berjumlah 10 suku kata. Kalimat ke dua berjumlah 10 suku kata. Kalimat ke tiga berjumlah 8 suku kata. Kalimat ke empat berjumlah 7 suku kata. Kalimat ke lima berjumlaj 9 suku kata. Kalimat ke enam berjumlah 7 suku kata. Kalimat ke tujuh berjumlah 6 suku kata. Kalimat ke delapan berjumlah 8 suku kata. Kalimat ke sembilan berjumlah 12 suku kata. Kalimat ke sepuluh berjumlah 7 suku kata.

3. Guru lagu = i, a, e, u, i, a, u, a, i, a

Akhir suku kata dari setiap kalimatnya harus bervokal i, a, e, u, i, a, u, a, i, a.

 

Tembang macapat sampai sekarang masih cukup populer. Di sekolah juga masih diajarkan bahkan ada juga yang sampai diperlombakan. Hal ini merupakan sesuatu yang sangat baik untuk menjaga dan melestarikan tembang macapat.

Berikut Contoh Tembang Macapat Pocung:

Tembang macapat yang merupakan lagu Jawa ini merupakan kebanggaan bagi orang-orang Jawa. Tembang macapat selalu digunakan pada setiap acara penting yang diadakan orang Jawa. Hingga saat ini pun tembang macapat masih cukup populer.

Tembang macapat sekarang ini biasanya dipertunjukan dalam pertunjukan-pertunjukan tertentu, seperti hari peringatan, hari-hari besar orang Jawa, acara perlombaan, acara pernikahan, dan lain sebagainya. Tembang macapat juga banyak diminati oleh wisata-wisata asing, sehingga sering dipertunjukan juga untuk menjadi slah satu kesenian hiburan.

S

Sumber: http://kampoengilmu.com/tembang-macapat/