Aqidah

288. Haramnya Riya’ -Pamer- Atau Memperlihatkan Kebaikan Diri Sendiri

Posted on

Allah Ta’ala berfirman: “Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama dengan lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus.
(al-Bayyinah: 5)

Allah Ta’ala juga berfirman: “Janganlah engkau semua membatalkan sedekah-sedekahmu semua -yakni menghapuskan pahala sedekah-sedekah itu- dengan sebab mengungkit-ngungkit -membanggakan kebaikan daripada orang yang diberi- serta menyakiti hati. Orang sedemikian ini adalah sama dengan orang yang menafkahkan hartanya semata-mata karena hendak berbuat riya’ kepada para manusia,” sampai habisnya ayat. (al-Baqarah: 214)

Allah Ta’ala juga berfirman: “Mereka itu suka melakukan riya’ kepada para manusia dan tidak berdzikir -yakni ingat- kepada Allah, melainkan hanya sedikit sekali.” (an-Nisa’: 142)

1613. Dari Abu Hurairah r.a., katanya: “Saya mendengar Rasulullah s.a.w. bersabda: “Allah Ta’ala berfirman: “Aku adalah -Dzat- yang paling tidak membutuhkan kepada serikat -yakni sekutu- diantara orang-orang yang memerlukan serikat -yakni sekutu- itu. Barangsiapa yang mengerjakan sesuatu amalan dan ia memperserikatkan -menyekutukan- besertaKu dengan yang selain Aku untuk mendapatkan pahalanya amalan tadi, maka Kutinggalkanlah orang itu -yakni tidak Kuperdulikan- dan pula apa yang diserikatkan itu.” (Riwayat Muslim)

1614. Dari Abu Hurairah r.a. pula, katanya: “Saya mendengar Rasulullah s.a.w. bersabda: “Sesungguhnya pertama-tama orang yang diputuskan -diperiksa ketika diadakan hisab- pada hari kiamat ialah seorang lelaki yang mati syahid -mati dalam peperangan fisabilillah-. Orang itu didatangkan, lalu diperlihatkanlah kepadanya akan kenikmatan -yang akan dimilikinya-, kemudian iapun dapat melihatnya pula. Allah berfirman: “Apakah yang engkau amalkan sehingga dapat memperoleh kenikmatan-kenikmatan itu?” Orang itu menjawab: “Saya berperang untuk membela agamaMu -ya Tuhan- sehingga saya terbunuh dan mati syahid.” Allah berfirman: “Engkau berdusta tetapi sebenarnya engkau berperang itu ialah supaya engkau dikatakan sebagai seorang yang berani dan memang engkau sudah dikatakan sedemikian itu.” Orang itu lalu disuruh minggir, kemudian diseret atas mukanya sehingga dilemparkan ke dalam api neraka. Selanjutnya ialah seorang lelaki yang belajar sesuatu ilmu agama dan mengajarkannya serta membaca al-Quran, ia didatangkan, lalu diperlihatkanlah padanya kenikmatan-kenikmatan yang dapat diperolehnya dan ia juga dapat melihatnya. Allah berfirman: “Apakah amalan yang sudah engkau kerjakan sehingga engkau dapat memperoleh kenikmatan-kenikmatan itu?” Orang itu menjawab: “Saya belajar sesuatu ilmu dan sayapun mengajarkannya, juga saya membaca al-Quran untuk mengharapkan keridhaanMu.” Kemudian Allah berfirman: “Engkau berdusta, tetapi sesungguhnya engkau belajar ilmu itu supaya engkau dikatakan sebagai seorang yang alim, juga engkau membaca al-Quran itu supaya engkau dikatakan sebagai seorang pandai dalam membaca al-Quran dan memang engkau telah dikatakan sedemikian itu. Selanjutnya orang itu disuruh minggir dan diseret atas mukanya sehingga dilemparkanlah ia ke dalam api neraka. Ada pula seorang lelaki yang telah dikaruniai kelapangan hidup oleh Allah dan pula diberi berbagai macam harta benda. Ia didatangkan lalu diperlihatkanlah padanya kenikmatan-kenikmatan yang dapat diperolehnya dan ia juga dapat melihatnya itu. Allah berfirman: “Apakah amalan yang sudah engkau lakukan sehingga dapat memperoleh kenikmatan-kenikmatan itu?” Ia menjawab: “Tiada suatu jalanpun yang Engkau cinta kalau jalan itu diberikan nafkah, melainkan sayapun menafkahkan harta saya untuk jalan tadi karena mengharapkan keridhaanMu.” Allah berfirman: “Engkau berdusta, tetapi engkau telah mengerjakan yang sedemikian itu supaya dikatakan: “Orang itu amat dermawan sekali” dan memang sudah dikatakan sedemikian itu.” Orang itu lalu disuruh minggir terus diseret atas mukanya sehingga dilemparkanlah ia ke dalam api neraka.” (Riwayat Muslim) Jariun dengan fathahnya jim dan kasrahnya ra’ serta mad, artinya ialah seorang yang berani lagi cerdas berfikir.

1615. Dari Ibnu Umar radhiallahu ‘anhuma bahwasanya ada beberapa orang yang berkata padanya: “Sesungguhnya kita ini kalau masuk ke tempat sultan-sultan kita, lalu kita mengatakan kepada mereka itu dengan kata-kata yang berlainan dengan apa yang kita bicarakan jikalau kita sudah keluar dari sisi sultan-sultan itu.” Ibnu Umar radhiallahu ‘anhuma lalu berkata: “Kita semua menganggap yang sedemikian itu sebagai suatu kemunafikan di zaman Rasulullah s.a.w. dahulu.” (Riwayat Bukhari)

1616. Dari Jundub bin Abdullah bin Sufyan r.a., katanya: “Nabi s.a.w. bersabda: “Barangsiapa yang memperlihatkan amalannya karena riya’, maka Allah akan memperlihatkan -ketidak ikhlasannya itu- dan barangsiapa yang berbuat riya’, maka Allah akan menampakkan keriya’annya itu.” (Muttafaq ‘alarh) Diriwayatkan pula oleh Imam Muslim dari riwayat Ibnu Abbas. Samma’a dengan tasydidnya mim, artinya ialah mempertontonkan amalannya kepada para manusia dengan tujuan riya’. Samma’al lahu bihi, artinya Allah akan membuka kedoknya itu pada hari kiamat. Adapun makna Man raa’aa raa’allahu bihi ialah barangsiapa yang memperlihatkan kepada para manusia akan amal shalihnya, supaya ia dianggap sebagai orang yang agung atau tinggi dipandangan mereka, padahal sebenarnya ia tidak sebagaimana yang diperlihatkan itu, maka Allah akan mempertontonkan rahasia hatinya itu kepada seluruh makhluk pada hari kiamat.

1617. Dari Abu Hurairah r.a., katanya: “Rasulullah s.a.w. bersabda: “Barangsiapa yang mempelajari sesuatu ilmu pengetahuan yang semestinya dapat digunakan untuk memperoleh keridhaan Allah ‘Azzawajalla dengan ilmunya tadi, tetapi ia mempelajarinya itu tidak ada maksud lain kecuali untuk memperoleh sesuatu kebendaan dari harta dunia, maka orang tersebut tidak akan dapat menemukan bau harumnya syurga pada hari kiamat,” yakni bau harum yang ada dalam syurga. Diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud dengan isnad shahih. Hadits-hadits lain yang berhubungan dengan bab ini amat banyak sekali lagi masyhur-masyhur.

Ramat Allah swt

Posted on

Semua manusia dapat menteladani nabi Muhammad saw. Umat Muhamad adalah umat yang terbaik. Rahmat khusus yang disebut arrasyd . Kelebihan 70 umat.antum ghoiruha. Ummad paling dimulyakan Allah. Minimalndidalam rumah tidak ada yang orang fasik,kufur nikmat. Apa yang diperintahkan kerjakan apa yang dilarang ditinggalkan. Untuk mendapat keridhoan harus mencintai nabi, beribadah, bertaubat dengan cara yang telah dicontohkan nabi. Arrosyd mendapat petunjuk langsung dari.Allah. seluruh jasad kita tunduk dan patuh kepada Allah. Tidak dikatakan sempurna imannya sebelum mencinya Rosulluh dengan meneladani Rosul. Ahlaq Robanni. Menjaga disiplin kewajiban terhadap Allah.

KITAB LARANGAN

Posted on

Dilarang untuk :
1. Dilarang melakukan kesyrikan dan musrik.
2. Dilarang mendurkahi ibu bapak.
3. Dilarang berdustan dan bohong
4. Dilarang membunuh tanpa hak
5. Dilarang membuat kerusakan
6. Dilarang menggunjing.
7. Dilarang menfitnah
8. Dilarang berprasangka buruk
9. Dilarang mencuri,merampok dan korupsi.
10. Dilarang memakan , mengambil riba.
11. Dilarang makan babi,bangkai,darah,binatang persembahan berhala.
12. Dilarang mennggalkan perang kecuali berbelok untuk mengatur strategi.

Bahaya meriwayatkan hafist palsu

Posted on Updated on

Hadist palsu yang tidak berasal dari Rosulullah
disebut hadist maudu. Sebab terjadi karena :

1. Perselisahan politik.  Dari kelompok yang paling banyak memasulkan adalah kelompok siah. Yang meriwatkan kelebihan sahabat Ali berlebihan.
2. Fanatik terhadap golongan/ bahasa / negara.
3. Mempunyai niat yang baik tetapi salah jalan,tidak tahu jalan.Orang orang yang bersemangat dalam ibadah namun kurang ilmu.

Bagaimana mengetahui kepalsuan hafist.

1. Dari sisi periwatan.
2. Matan hafist yaitu isi hadist tata bahasa yang jelek. Kerana Rosulullah diberi kata kata yang pendek dengan makna yang baik.
3.Makna hadist yang rusak.
4.Bertentangan dengan Al quran dan asunah.

Hukum meriwayatkan hadist
Barang siapa yang berdusta atas nama ku (Rosulullah) maka siapkan tempat duduknya di nereka.
Syariat islam melarang bersadar pada hadist yang lemah.